RSS

HUBUNGAN SABAT DENGAN HARI TUHAN

18 Jun

Sabat merupakan hari besar keagamaan yang sangat penting di dalam hidup dan pemikiran orang Yahudi demikian juga di kalangan orang Kristen, karena Sabat dianggap sebagai mahkota karya penciptaan dalam Kejadian 1:1-2:4a. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa setelah menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya, Allah menutup seluruh pekerjaan-Nya dengan beristirahat pada hari ketujuh, memberkati dan menguduskan hari itu. Joshua Heschel mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan selama 6 hari dan Allah menjadikannya baik, dan pada hari ketujuh Allah menjadikannya kudus. Allah menciptakan Sabat dan memberikan kualitas kekudusan pada hari itu. Hal ini menunjukkan bahwa hari Sabat adalah hari yang sangat penting dan harus mendapat perhatian yang khusus oleh setiap manusia, karena Allah telah memberikan Sabat dan memperhatikan Sabat.
Sebagaimana Allah berhenti pada hari ketujuh, maka manusia diharuskan berhenti dari semua aktifitasnya dan melaksanakan Sabat. Hal ini sangat jelas terlihat di dalam Keluaran 20:9-11, yakni perintah keempat yang diberikan melalui perantaraan Musa, supaya umat Israel memelihara Sabat Tuhan. Pada saat itulah diberi kesempatan bagi mereka untuk beribadah dan menyembah Allah yang hidup.
Perjanjian Baru juga menjelaskan bagaimana sikap Yesus di dalam memperhatikan hari Sabat, yakni pada setiap hari Sabat Dia pergi ke Sinagoge. Demikian juga dengan para Rasul pada hari pertama dalam satu minggu, mereka mengadakan pertemuan untuk memecahkan roti dan berdoa. Pertemuan ini dipahami sebagai perayaan Sabat (Kis.2:46, 5:42). Secara khusus dijelaskan bahwa Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus memerintahkan supaya mereka merayakan hari Sabat (1Kor.16:2). Bahkan sampai saat ini, di kalangan orang Kristen tetap memelihara Sabat, dengan jalan melaksanakan ibadah pada setiap hari Minggu dan pada hari Sabtu untuk golongan Advent.
Sabat mendapat tempat penting dalam kekristenan. Tetapi kenyataannya ditemui ada banyak perbedaan pendapat mengenai relasi antara Sabat dan hari Tuhan yakni pada hari pertama. Adanya pendapat yang berbeda ini, mengakibatkan sikap dan cara yang berbeda pula dalam beribadah, demikian juga waktu untuk beribadah.
Sebagian dari mereka menguduskan hari Sabat dengan pengertian bahwa Sabat dalam Perjanjian Baru merupakan kelanjutan dari Sabat Perjanjian Lama, untuk masuk ke dalam perjanjian dan zaman yang baru. Mereka percaya bahwa Sabat hari ketujuh adalah hari yang benar sesuai dengan perjanjian di Sinai, sehingga mereka memelihara hari kudus yakni Sabat dengan cara tidak melakukan pekerjaan pada hari itu. Kelompok ini menamakan diri Advent Hari Ketujuh yang mempercayai bahwa hari Sabtu adalah hari ibadah yang benar, Sabat yang berdasarkan Alkitab dan kelanjutan dari ibadah pada hari ketujuh. Kelompok ini sangat ketat dalam memelihara hari Sabat, karena bagi mereka kesetiaan kepada Allah diukur dari kesetiaan mereka dalam melakukan ibadah Sabat.
Kelompok lain yang berbeda dengan kelompok yang telah dijelaskan sebelumnya, meyakini bahwa Sabat hari ketujuh dalam Perjanjian Lama telah diubah atau diganti menjadi hari Minggu, demikian juga dengan perintah untuk memelihara Sabat telah dimodifikasi di dalam Perjanjian Baru. Modifikasi ini terlihat jelas dalam penerapan peraturan Sabat di dalam Perjanjian Baru. Peraturan Sabat yang begitu keras yang diberlakukan di dalam Perjanjian Lama, tidak terlihat lagi di dalam Perjanjian Baru. Perubahan atau pergantian ini didasarkan pada peristiwa kebangkitan Kristus.
Selain itu ada juga kelompok lain yang meyakini bahwa Sabat di dalam Perjanjian Lama telah digenapi oleh Yesus di dalam Pribadi dan pekerjaan-Nya, termasuk tema-tema dari setiap simbol dan peraturan Sabat. Kelompok Kristen ini percaya bahwa Sabat adalah hari yang khusus dan penting untuk beribadah bahkan mereka beribadah pada hari Minggu, tetapi kelompok ini tidak mementingkan tempat ataupun waktu yang khusus untuk beribadah. Kelompok ini masuk dalam kategori kelompok Protestan.
Selain adanya perbedaan pengertian diantara kelompok orang yang memperhatikan ibadah Sabat, satu hal yang sangat mengherankan bahwa di kalangan kekristenan, khususnya mereka yang beribadah pada hari Minggu, ditemukan bahwa mereka tidak mengetahui kapan terjadinya perubahan waktu ibadah dari hari Sabat ke Hari Tuhan dan alasan yang tepat terjadinya perubahan tersebut. Tidak ada sumber yang dengan jelas telah membuktikan permasalahan ini. Roger Beckwith & Wilfrid Stott bahkan berpendapat bahwa perubahan waktu ibadah Sabat dari hari Sabtu ke hari Minggu tidak memiliki dasar Alkitab.
Permasalahan seputar Sabat ini akhirnya menimbulkan kontroversi di antara para sarjana. Kontroversi seputar Sabat dan hari ibadah orang Kristen pada hari Minggu yang lebih dikenal dengan “Hari Tuhan”. Permasalahan yang muncul apakah hari Sabat terus berlanjut sampai sekarang atau tidak. Apakah ada hubungan antara hari Sabat dengan Hari Tuhan, ataukah sebaliknya.
Pada masa Reformasi, Gereja Katolik Roma menjawab permasalahan ini dengan menggunakan otaritas dari Gereja. Mereka mengatakan bahwa perubahan yang terjadi dari hari ketujuh sampai hari pertama sebagai bukti utama dari kuasa Gereja terhadap institusi keagamaan. Mereka meyakini bahwa Yesus telah memberikan kuasa kepada Gereja untuk melakukan perubahan. Pernyataan ini ditentang oleh kalangan Protestan di dalam pengakuan Augsburg, “They that think that the observation of the Lord’s Day was appointed by authority of the church, instead of the Sabbath, are greatly deceived”.
Ada juga yang berpendapat bahwa kekristenan telah meminjam hari ibadah dari komunitas Qumran yang ditemukan di dalam kalender Essene, yang diyakini telah ada sebelum era kekristenan. Kalender ini mencatat bahwa hari ibadah mereka adalah hari Rabu, Jumat dan Minggu. Berdasarkan catatan tersebut, terlihat bahwa komunitas Qumran sangat keras dalam memelihara Sabat.
Teori dari Riesenfeld’s menjelaskan bahwa orang Kristen datang berkumpul untuk beribadah pada hari Minggu pagi sebagai kelanjutan dari pertemuan pada hari Sabtu malam. Karena alasan inilah maka ibadah pada hari Minggu diadakan sebagai hari perhentian Kristen, yang kemudian diikuti oleh para Rasul.
Pendapat Beckwith lebih terfokus pada karya Kristus sebagai dasar terjadinya perubahan hari ibadah. Dia mengatakan bahwa sebagaimana halnya hari Sabat, Hari Tuhan adalah sebuah peringatan yakni memperingati hari penciptaan dan pembebasan dari Mesir, sedangkan Hari Tuhan adalah memperingati kebangkitan Kristus. Hal ini dijadikan sebagai alasan terjadinya perubahan dari hari Sabat ke Hari Tuhan. Dia menambahkan juga bahwa perubahan hari ibadah ini bukan berarti meniadakan pengertian Sabat yang lama, yakni sebagai peringatan hari penciptaan dan penebusan dari tanah Mesir, tetapi pergantian pengertian itu dihubungkan dengan kebangkitan Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus membuka ciptaan baru dan menjadi Penebus yang besar, bukan lagi dari Mesir tetapi dari belenggu dosa.
Pengakuan iman Westminster pasal 21 sesi ke-VII sangat jelas mendukung pergantian waktu ibadah orang Kristen didasarkan pada kebangkitan Kristus.
As it is the Law of nature applying to all that a proper proportion of time be set apart for the worship of God, so, in His Word, by a positive, moral and perpetual commandment binding all persons in all ages, God has specially appointed one day in seven for a sabbath to be kept holy to Him. From the beginning of the world to the resurrection of Christ the Sabbath was the last day of the week, but when Christ’s resurrection took place it was changed to the first day of the week. In Scripture this day is called the Lord’s Day. It is to be continued to the end of the world as the Christian Sabbath.

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh E. G. White mewakili kelompok orang yang memelihara Sabat pada hari ketujuh, dalam bukunya The Great Controversy yang dikutip oleh Ratzlaff, White meyakini bahwa Advent Hari Ketujuh adalah Gereja satu-satunya, Gereja yang benar dan sisa dari Gereja. Dia memakai Wahyu 12:17 dan 19:10 sebagai pendukung pendapatnya. Dia mengatakan bahwa ayat ini memberikan perintah untuk memelihara perintah keempat dan memegang kesaksian Yesus yakni melalui ramalan Roh atau kesaksian-kesaksian yang lain .
Miller mendukung pandangan ini dengan menggunakan Wahyu pasal 7 untuk menjelaskan bahwa identifikasi tanda dari Allah yang dimaksud di dalam bagian ini adalah pengikut Advent Hari Ketujuh. Dia juga menyatakan bahwa sisa orang yang memelihara perintah Allah, yakni mereka yang beribadah pada hari ketujuh dan yang memelihara kesaksian dari Yesus berjumlah 144,000. Selain itu, mereka meyakini bahwa perhentian pada hari ketujuh merupakan akhir dari perhentian bagi manusia.
Pengikut Advent Hari Ketujuh memang diakui sangat keras dalam memelihara hari Sabat. Hal ini didasarkan pada ketakutan terhadap murka Allah yang akan mereka alami, apabila mereka tidak memperhatikan Sabat dengan benar. Bagi mereka, Sabat yang benar adalah hari ketujuh yaitu hari Sabtu yang dimulai sejak matahari terbenan pada hari jumat dan berakhir pada hari Sabtu setelah matahari terbenam. Dengan adanya pemahaman ini, maka mereka merasa diri paling benar dalam melaksanakan ibadah Sabat.
Mereka meyakini bahwa orang yang beribadah dan mengajarkan Sabat hari ketujuh akan menjadi penguji akhir Allah bagi kehidupan orang Kristen pada hari terakhir, yakni sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kali. Mereka percaya bahwa barangsiapa yang beribadah diluar hari Sabtu, yakni pada hari Minggu akan menerima tanda dari binatang dan mereka akan menerima murka dari Tuhan pada hari terakhir. Kelompok Advent Hari Ketujuh ini menggunakam Wahyu 14:9 dan 10 sebagai dasar pemahaman mereka.
Pendapat yang berbeda dimunculkan oleh Armstrong. Ia berpendapat bahwa orang Kristen memelihara hari Minggu, karena mereka berpikir bahwa perhentian Sabat telah digenapi oleh Kristus, sehingga orang Kristen saat ini tidak tertarik lagi untuk memperhatikan hari ketujuh. Keadaan ini muncul sejak kebangkitan Kristus yang diyakini bahwa ibadah pada hari pertama ini bertepatan dengan peringatan kebangkitan Kristus yang dilakukan oleh para murid Tuhan, yakni tepat pada malam Paskah.
Bandstra menambahkan bahwa melalui Pribadi dan pekerjaan Yesus, maka orang Kristen mendapatkan perspektif yang baru tentang Sabat, yakni pengertian yang baru dan cara yang baru di dalam ibadah Sabat. Jewett mendukung pandangan ini dengan menggunakan Yohanes 7:24 sebagai bukti bahwa tindakan Yesus menyembuhkan pada hari Sabat bukan hanya sekedar tindakan kasih, tetapi juga tindakan yang menunjukkan bahwa Sabat Mesianik telah menggenapi perhentian Sabat dalam Perjanjian Lama. Dia menambahkan juga bahwa penggenapan Sabat bukan hanya terjadi sekarang (Hari ketujuh) tetapi juga untuk pengharapan pada masa yang akan datang. Perhentian yang sesungguhnya akan dialami pada kedatangan Yesus yang kedua kali. Hal ini bertentangan dengan konsep dari kelompok Advent Hari Ketujuh yang menganggap bahwa akhir dari perhentian manusia adalah pada hari ketujuh.
Orang Kristen menyembah Allah bukan lagi pada hari ketujuh, tetapi pada hari pertama yang secara umum disebut sebagai “Hari Tuhan”. Perubahan waktu ini diambil dari persekutuan orang-orang Kristen primitif dan dalam rangka memperingati kebangkitan Kristus. Bagaimanapun perayaan ini pantas disebut hari Sabat orang Kristen yang membedakannya dengan hari Sabat orang Yahudi.
Carson berpendapat bahwa tindakan Yesus pada hari Sabat bukan berarti meniadakan Sabat, tetapi sebagai tindakan yang menunjukkan bahwa ke-Ilahian-Nya mengatasi Sabat dan sebagai penggenapan Sabat. Dia memakai Ibrani 3 dan 4 sebagai dasar bahwa Hari Tuhan telah menggenapi Sabat Perjanjian Lama dengan memberikan perhentian yang sesungguhnya melalui karya kebangkitan Kristus.
Ratzlaff mendukung pendapat Carson, dengan menjelaskan tiga simbol Sabat dalam Perjanjian Lama yang telah digenapi di dalam Perjanjian Baru. Simbol yang pertama adalah perhentian dari penciptaan, yang digenapi melalui perhentian yang sesungguhnya “Bersifat Eskatologi” yang diberikan Yesus melalui karya-Nya dalam sejarah keselamatan (Ibrani 3 & 4). Simbol yang kedua adalah tanda perjanjian, yakni perjanjian di Sinai yang telah digenapi dalam Perjanjian Baru, sebagai peringatan Perjamuan Malam sebelum kematian Kristus (Lukas 22). Hal ini dijadikan sebagai peringatan yang harus diingat oleh setiap anak Tuhan turun-temurun. Simbol yang ketiga adalah hari ibadah yang diyakini bahwa dengan banyaknya pemunculan hari pertama di dalam Perjanjian Baru, maka hal ini mengindikasikan bahwa hari pertama mendapat perhatian yang khusus sehingga beberapa tahun setelah kematian Kristus, Sabat sebagai hari ibadah diadakan pada hari pertama (Dilihat dari sejarah). Dengan adanya perubahan ini, maka timbul pemahaman bahwa melalui karya kematian dan kebangkitan Kristus, Sabat dalam Perjanjian Lama telah digenapi.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis melihat bahwa Sabat adalah satu aspek doktrin gereja yang sangat penting baik dikalangan orang Yahudi maupun di tengah orang Kristen, tetapi kenyataannya didapati sejak awal kekristenan Sabat telah menjadi topik yang hangat diperdebatkan di kalangan para sarjana. Perdebatan ini didasarkan pada suatu kenyataan bahwa adanya perbedaan waktu ibadah diantara agama Yahudi dengan agama Kristen yang sama-sama mengakui melakukan Sabat Tuhan.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2011 in ARTIKEL

 

Tag:

One response to “HUBUNGAN SABAT DENGAN HARI TUHAN

  1. gkkasingaraja

    18 Juni 2011 at 7:00 AM

    bagussss…….postingnya mantapa

     

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: