RSS

HIDUP BERSAMA DAN BERSAKSI DALAM KONTEKS ISLAM NEO MODERNIS

23 Jun

HIDUP BERSAMA DAN BERSAKSI DALAM KONTEKS ISLAM NEO MODERNIS

Oleh: Venny E.H Sariowan, M.Div

PENDAHULUAN.

Dalam dunia yang majemuk dan plural ini, setiap orang pasti akan masuk dan berahadapan dengan pelbagai macam budaya, ras, agama dan kepercayaan. Demikian juga masyarakat yang ada di Indonesia, yang memiliki keaneka-ragaman ras, suku, budaya dan agama serta kepercayaan. Indonesia juga memiliki penduduk Islam terbesar di dunia. Oleh karena itu, mau tidak mau setiap orang Kristen dituntut untuk belajar dan memahami arti kemajemukan dan pluralitas tersebut. Tujuannya adalah dalam rangka hidup berdampingan dengan cara berkontekstualisasi dan berintegrasi dalam kepelbagaian yang ada, teristimewa di tengah-tengah umat Islam. Dalam konteks inilah kajian “bagi gereja atau umat Kristen untuk hidup bersama dalam damai melalui kesaksian” menjadi sangat relevan.

Berangkat dari paham tersebut di atas, kesadaran akan adanya realita bahwa kekristenan ada dan hidup ditengah-tengah agama lain, secara khusus hidup di tengah-tengah agama Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia, membuat orang Kristen harus “belajar memahami dan mengerti tentang Islam dan pekembangannya dalam abad medern ini,” agar orang Kristen bisa hidup berhikmat dan memasang stragi,[1] untuk hidup berdampingan dan bersaksi di tengah agama-agama yang ada secara khusus agama Islam.

 Persoalan relasi antara agama Kristen dan agama Islam di Indonesia, menjadi suatu persoalan yang mendesak untuk dibahas, dipikirkan dan dibicarakan. Menurut Dr. Bambang Ruseno Utomo, MA, dalam perkulihanan Islamologi paskasarjana, Ia mengaskan bahwa ada tiga faktor utama yang membuat relasi antara kedua agama Islam dan Kristen rentan konflik, yaitu, faktor historis, faktor theologis dan faktor sosiologis.[2] Penulis kemudian mendalami faktor-faktor ini lebih dalam. 1) Faktor Historis, secara global memiliki bukti sejarah adanya “kepahitan” yang panjang dimasa lalu,[3] 2) Faktor theologis, adanya klaim kebenaran (truth claim).[4] Adanya klaim bahwa hanya ada satu-satunya agama yang paling benar memunculkan adanya standart ganda dalam menilai kebenaran suatu agama. Standar ganda ini pada akhirnya memunculkan prasangka-prasangka theologis dan memperkeruh hubungan diantara keduanya. Anggapan ada-tidaknya keselamatan dalam agama lain, seringkali ditentukan oleh pandangan ini. Standar itu adalah bahwa agama kita adalah agama yang paling sejati berasal dari Tuhan, sedang agama lain adalah hasil pemikiran manusia. Kalaupun berasal dari Tuhan, tetapi telah dipalsukan oleh manusia. Melalui standar ganda inilah dapat disaksikan perang klaim kebenaran dan janji penyelamatan yang berlebihan dari suatu agama atas agama yang lain terus berjalan hingga sekarang.[5] 3) Faktor sosiologis.[6] Faktor sosiologis berkaitan dengan keberadaan masyarakat yang plural, artinya antara faktor theologis dan faktor sosial tidak bisa dipisahkan.[7] Hubungan manusiawi biasanya sulit dilakukan antar individu-individu yang berlainan keyakinan vertikalnya. Keberadaan agama biasanya merupakan variabel penyebab munculnya beragam rintangan komunikasi antar sesama umat manusia dalam melakukan interaksi sosial. Misalnya, Agama Kristen di tuduh sebagai pembawa kebiasaan barat, sedangkan agama Islam sebagai pembawa kebiasaan Arab. Atau tuduhan bahwa membantu orang miskin adalah mengkristenkan atau mengislamkan. Dari ketiga faktor di atas inilah jika tidak dipahami dengan baik maka akan muncul “konflik” yang berdampak pada hubungan yang tidak harmonis di antara keduanya.

Study lebih lanjut memperlihatkan bahwa di dalam Islam sendiri, telah terjadi perubahan paradigma berkaitan dengan masuknya zaman modernisasi dan globalisasi yang berdampak pada pemikiran kembali konsep dan ajaran agama Islam dalam konteks kemajemukan Agama di Indonesia. Salah satu di antaranya munculnya kaum Islam santri Neo-Modernis. Oleh karena itu, di bawa ini, kami kelompok empat akan membahas secara mendalam tentang satu topik “Hidup Bersama Dan Bersaksi Dalam Konteks Islam Santri Neo-Modernis.Pembahasan ini, untuk memenuhi tugas mata kuliah Islamologi. Selain itu pembahasan ini melatih kami mahasiswa dalam usaha pendekatan terhadap agama lain dalam wacana toleransi dan hidup bersama dalam dunia Islam Santri Neo-Modernis.

MENGENAL ISLAM SANTRI NEO-MODERNIS

  1. A.    Sejarah Muncul Istilah “Neo-Modernis” Islam

Istilah Santri “Neo-Modernis” Islam idenya muncul dari Fazlur Rahman[8] sebagai salah seorang pemikir dan pembaharu Islam yang mempunyai andil besar pada abad ke-20. Menurut Greg Barton, Fazlur Rahman merupakan orang yang pertama kali mengunakan istilah neo-modernis dalam sebuah model yang sistematis.[9] Istilah ini berkembang dari lembaga riset Islam yang khusus dipimpin Rahman untuk “menafsirkan Islam dalam istilah-istilah rasional dan ilmiah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan suatu masyarakat modern yang progresif.” Salah satu di antaranya adalah perluasan terhadap isi ijtihad, seperti hubungan antara akal dan wahyu, status wanita, serta pembaharuan politik, dan bentuk-bentuk pemerintahan yang refresentatif serta konstitusional dan pengaruh dengan pemikiran dan masyarakat Barat. Usaha modernisme klasik dalam menciptakan kaitan yang baik antara pranata-pranata Barat dengan pemikiran tradisional Islam melalui sumber al-Qur’an dan Nabi, menurut Rahman, merupakan suatu prestasi besar yang tidak bersifat artifisial atau terpaksa. Hakikat penafsiran Islam gerakan didasarkan pada al-Qur’an dan Sunnah historis (yakni biografi Nabi) sebagaimana dibedakan dengan Sunnah teknis (yakni yang terdapat di dalam hadis-hadis). Mereka pada umumnya skeptis terhadap hadis, tetapi skeptisisme ini tidak ditopang oleh kritisisme ilmiah.[10] Dari pemikiran inilah sehingga muncul istilah Islam Neo-Modernis yang menyatakan Islam harus terbuka “inklusif” terhadap kebenaran agama lain.

  1. B.     Latar Belakang Lahirnya Islam Santri Neo-Modernis

Ada dua faktor pendukung lahirnya Islam Santri Neo-Modernis, yaitu faktor Internal dan faktor eksternal.[11]

  1. 1.      Faktor Internal

Berawal dari banyaknya kebijakan Orde Baru, yang mendepolitisasi, mendeparpolisasi dan mendeidiologisasi segala hal yang berkaitan dengan gerakan Islam. Hal ini merupakan konfrontatif pemerintahan Orde Baru terhadap elit politik Islam dan intelektual muda yang memiliki motivasi untuk berusaha memajukan Islam daripada reformasi dan pembaharuan Politik Orde Baru.[12] Mereka tidak lagi berorientasi pada bentuk negara Islam sebagaimana pendahulunya di tahun 1950-an. Bagi mereka, substansi Islam lebih penting untuk ditegakkan. Oleh kerena itu, gerakan pembaharuan saat itu mengarah pada transformasi theologis dari orientasi politik menuju nilai-nilai etis. Hal ini beriringan dengan kebutuhan pemerintah Orde Baru untuk membangun negara bangsa modern. Dari hal ini kemudian lahirlah gerakan intelktual Muslim untuk berpikir lebih jauh lagi mengenai Islam. Seperti wawancara yang dilakukan oleh Malcolm Cone dari University Of Otago Dunedin, New Zealand tahun 1993-1997 beberapa tokoh intelektul Islam diantaranya adalah; Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Abdurachman Wahid, Djohan Effendi dan Taufik Abdullah, dll. Tujuannya adalah untuk menegaskan kembali relasi yang sinergis antara pemerintah Orde Baru dan Islam Liberal dalam pengertian mempromosikan Islam kepada pemerintah Orde Baru. Seperti yang dituliskannya;

The purpose of the study is to understand some of the synergies between the New Order Government and liberal Islam. More specifically, the objective is to provide some insight into the conditions – political and religious – that were conducive to the emergence of a liberal, socially responsive Islam, under a government that some western commentators on Indonesia political life regard as one of the most despotic and authoritarian regimes of the late 20th century.[13]

Pada prinsipnya, gambaran di atas mencerminkan paradigma baru dalam Islam dimana memunculkan Islam leberal dimasa era Orde Baru diantaranya adalah masalah politik dan agama dan juga respon Islam terhadap situasi sosial waktu itu. Di tahun 70-an konflik antar agama perlahan menguat pasca surutnya konflik ideologi di Indonesia. Pembakaran rumah ibadah dan ketegangan berlatar-belakang agama menghiasi perjalanan awal Orde Baru. Gerakan pembaharuan, yang dikategorisasi sebagai Neo-Modernisme, ikut terlibat dalam upaya meredam gelombang konflik itu.

Bersama-sama dengan pemerintah Orde Baru, gagasan tentang pluralisme dan teologi kerukunan mewarnai upaya untuk meredakan dan menghilangkan konflik tersebut. Meski pada awalnya gerakan tersebut mengalami kesulitan, namun pada akhirnya gerakan tersebut relatif berhasil dalam menurunkan kadar konflik antar-agama, sehingga Orde Baru dipuji sebagai pemerintahan yang patut dicontoh dalam membangun kehidupan harmonis di tengah kemajemukan agama.

Adanya keprihatinan korban G-30 S yang memunculkan luka-luka yang dalam, ini adalah suatu sikap yang berlandas pada penghormatan atas keberadaan ‘yang lain’ (the other). Kebencian dan permusuhan tidak sejalan dengan pandangan bahwa setiap manusia memiliki fitrah yang cenderung kepada kebenaran. Jadi dialog antar agama yang gencar dilakukan di tahun 70-an merepresentasikan karakter Islam moderat yang justru mengecam tindakan-tindakan yang tidak manusiawi terhadap orang-orang yang dinyatakan terlibat dalam G 30 PKI. Dalam teologi kerukunan yang diusung gerakan Islam moderat yang disebut Neo Modernis, terdapat kepentingan untuk membangun stabilitas, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Tidak heran jika dalam konteks ini, kelompok Islam ini mendapatkan tempat di hati pemerintah Orde Baru. Namun hal itu tidak secara otomatis menunjukkan bahwa gerakan Islam Santri Neo-Medernis berada di bawah kepentingan pemerintah. Dalam persoalan lain, Islam Santri Neo-Modernis bersikap sangat kritis terhadap pemerintah.

Terjadinya kekecewaan terhadap pembaharuan Santri Modernis, Neo-Konservatisme, Neo-Fundamentalisme, legal tormalistis, tercabut di akar yang dimiliki.[14]

  1. 2.      Faktor Eksternal

Pada awalnya Islam Santri Neo-Modernis lahir dari gerakan modernisme Islam sendiri dalam menyingkapi gerakan “rasionalisasi” dan kebebasan ijtihad agama. Tokoh-tokohnya, Muhammad Abduh, Jamaludin Al Afgani dan Rasyid Ridha di Timur Tengah Gerakan ini kemudian menginpirasi berdirinya Muhammadiah di Indonesia. Gerakan modernisme Islam di Indonesia lahir sebagai respon modernitas barat. Gerakan ini kemudian memunculkan penafsiran yang berbeda-beda dan kemudian melahirkan pemahaman baru dari golongan Islam sendiri yang memahami Islam secara progresif, liberal dan sekular. Dari pemahaman inilah kemudian muncul golongan Islam Santri Neo-Modernis.[15]

Islam santri Neo-Modernis, adalah gerakan baru dalam bidang pemikiran Islam yang menampilkan usaha original untuk mengkombinasikan gagasan liberal secara progressifitas dengan keimanan keagamaan yang subjektif dan terbuka termasuk penggabungan antara Islam modernis dan Islam traditional. Gerakan ini, dalam satu pengertian, merupakan tahap baru dari modernisme Islam.[16] Greg Barton menegaskan bahwa kategori Islam santri Neo-Modernis mempunyai tiga karakteristik, yaitu; Pertama, mempunyai faham humanisme. Kedua, bersifat percampuran ide Islamik dan sekuler, yakni merupakan perpaduan dari berbagai aspek. Sebagai contoh, boleh mengambil cara wudlu dari Islam, tata cara perkawinan menurut nasrani dan sebagainya. Pada intinya, kategori ini memberi kebebasan memilih cara mana yang akan digunakan. Ketiga, mempunyai corak progresifitas, artinya selalu berkembang. Landasan epistemologinya adalah bahwa kalau ada kebenaran, mengapa ada agama baru? Kategori ini juga memandang bahwa Islam tidak melulu menghakimi sesuatu berdasarkan Quran, hadits atau ijma saja, tetapi Islam diberi kebebasan untuk memutuskan berdasarkan rasionalitas.[17] Greg Barton juga memengaskan bahwa Islam Santri Neo-Modernis merupakan antithesis dengan ekstrimitas rasionalisme Islam liberal dan liberalisme Islam radikal yang tercakup dalam semangat gerakan pembaruan Islam era 70-an hingga 90-an.[18]

Dengan kata lain, ciri utama dari metodologi Neo-Modernisme adalah penggunan teori-teori modern Barat dalam menjabarkan sumber otoritatif dan khazanah klasik Islam. Pembacaan ulang teks dengan kacamata modernitas menghasilkan suatu bentuk ke-Islaman yang otentik sekaligus relevan dengan “kedisinian” dan “kekinian”.[19]

 C.    Tokoh-Tokoh Islam Santri Neo-Modernis.

Salah satu penyebab lahirnya Islam Santri Neo-Modernis disebabkan adanya pemikir-pemikir dan pelaku-pelaku dalam kalangan intelektual Islam sendiri untuk menyingkapi pengaruh arus modernisasi dan globalisasi terhadap Islam, sehingga memunculkan paradigma baru antara iman Islam dan sekularisasi barat. Para pemikir tersebut adalah Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid terhadap Ijtihad terutama berkaitan dengan pemaduan yang mereka lakukan atas keilmuan Islam klasik dengan motede-metode analitis Barat.[20] Dari tulisan-tulisan yang disajikan tokoh-tokoh tersebut, sebagai sumber analisis dapat disumpulkan bahwa, mereka mempunyai akar yang kuat pada tradisi Islam klasik dan fenomena modernisme Barat, sehingga cukup tepat untuk dimasukan ke dalam tipologi “neo-modernis”.[21]

Hal yang sama ditegaskan oleh Greg Barton bahwa pemikiran dan pelaku Islam Santri Neo Modernis adalah Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib dan Djohan Efendi. Salah satu karekteristik dari pemikiran mereka adalah komitmen yang kuat kepada pluralisme dan nilai-nilai inti demokrasi. Nilai-nilai pluralistik dan demokrasi ini tertanam begitu kuat dalam pemikiran mereka sehingga terjalin begitu rupa ke dalam rajutan keyakinan sebagai nilai-nilai inti Islam itu sendiri.[22]

Dalam presentasi yang disampaikan sebuah website Islam menjelaskan bahwa Islam Santri Neo-Modernis, diawali oleh Harun Nasution dan kemudian dikembangkan oleh Cak Nur dan Gus Dur. Dalam presentasi tersebut menjelaskan bahwa pada awalnya di era sebelum tahun 1970 an Cak Nur menentang sekulerisme, Cak Nur kemudian berangkat ke Amerika, dan selama beberapa waktu kemudian, ia Pulang dari Universitas Chicago setelah berguru dengan intelektual muslim Fazlur Rahman, Cak Nur mulai berkempanye tentang pembaharuan Islam di Indonesia. Salah satu pendapatnya dalam sebuah artikel yang kontroversial adalah  :Islam Yes Partai Islam No? : Sekulerisasi bukan sekulerisme. Dengan demikian, Cak Nur atau Nurcholish Madjid adalah salah satu tokoh yang dominan dalam pemikiran dan perkembangan Neo Modernis Islam di Indonesia.[23]

 D.    Pokok-Pokok Pikiran Islam Santri Neo-Modernis

Secara umum pokok pikiran Islam Santri Neo-Modernis terbagi ke dalam dua pendekatan yakni sosial-kultural dan sosial-politis. Salah satu perbedaan mendasar dari dua pendekatan itu adalah jika pendekatan sosial politis lebih memilih politik formal negara seperti partai politik sebagai jalur perjuangan sedangkan sosial kultural lebih memilih institusi atau lembaga kemasyarakatan.

Kaum Neo medernis Islam dipandang oleh kalangan golongan Islam lainnya sebagai golongan Islam yang telah terlalu jauh melangkah melampaui prinsip-prinisp Islam dikarenakan penafsrian mereka yang dipandang terlalu liberal.[24] Adupun pokok-pokok pikiran Islam Neo Modernis adalah; Ijtihad Baru, Pemisahan antara Institusi Agama dan Negara, penekanan terhadap Pluralisme Agama dan HAM.

  1. 1.      IJTIHAD Baru.

Ijtihad baru ini muncul karena dipengaruhi oleh arus globalisasi dan sekluarisme barat. Oleh karena itu, memicu pemikir Islam intelktual untuk meninjau kembali pengertian dan konsep Ijtihad yang dikembangkan dalam ajaran Islam. Ijtihad dalam bahasa (Arab: اجتهاد) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.[25] Namun pada perkembangan selanjutnya, diputuskan bahwa ijtihad sebaiknya hanya dilakukan para ahli agama Islam. Tujuan ijtihad adalah untuk memenuhi keperluan umat manusia akan pegangan hidup dalam beribadah kepada Allah di suatu tempat tertentu atau pada suatu waktu tertentu.[26]

Pada perkembangan selanjutnya, Ijtihad ditafsirkan secara sekuler yang disebut dengan Ijtihad baru berarti pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu penggunaan akal sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam al-Quran dan as-Sunnah. Muhammad Iqbal menamakan ijtihad ini sebagai the principle of movement. Mahmud Syaltut berpendapat, bahwa ijtihad atau yang biasa disebut arro’yu mencakup dua pengertian yaitu, 1) Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. 2) Penggunaan fikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan mengambil kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits.[27]

Pentingnya Ijtihad baru menurut Nurkholos Madjid, adalah desakralisasi, dan sekularisasi nilai-nilai yang semestinya duniawi, sedangkan menurut Effendi penggunaan akal dengan ijtihad menggali ajaran Islam untuk masalah-masalah keduniawian. Menurut Ahmad Wahib, Ijtihad adalah kontekstual peka terhadap teks dan konteks sunnah harus menjadi sumber utama dalam menafsir.[28]

  1. 2.      Pemisahan Antara Institusi Agama dan Negara.

Salah satu pokok pikiran Islam Santri Neo-Modernis yang menjadi kontroversial adalah pemisahan Institusi Agama dan Negara. Menurut Gus Dur  pemisahan antara Agama dan Negara harus ditinjau dari sudut pandang social cultural bukan sosial politik, karena  pendekatan sosial politis pada akhirnya hanya membiarkan Islam diperalat oleh negara. Inilah yang dimaksudkan oleh Nurcholish Madjid tentang Negara (politik) bersifat sekularisme yang bertolak belakang dengan Islam yang menilai hal itu sebagai ajaran yang batil dan cendrung anti agama.[29] Islam berpolitik secara formal hanya dijadikan alat legitimasi oleh negara. Akibatnya, jalur politik formal pada akhirnya hanya akan menyumbang pada status quo. Maka, jalur ini sama sekali tidak strategis untuk proyek demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. Karena menurut Gus Dur jalur sosial politis ini sejak awal sudah contradectio in terminis. Dia mengatakan bahwa bagaimana mereka melakukan pemberdayaan masyarakat kalau pada kenyataannya mereka menghamba kepada status quo.[30] Islam memang tidak begitu tertarik pada wilayah poltik. Seperti yang di tegaskan oleh Nurcholish Madjid “Islam Yes Partai Islam No : Sekulerisasi bukan sekulerisme” pengakuan ini didasarkan pada penilaian praktek partai-partai Islam tidak membangun image yang positif malah sebaliknya image yang negative.[31]

Pemisahan Negara dengan Agama didasarkan pada ajaran Islam yang tidak mengajarkan secara baku tentang pengelolaan negara. Kata negara dalam bahasa arab adalah al-Daulah yang tidak pernah ada dalam al-Quran. Yang ada dalam al-Quran adalah kata baldatun yang memiliki makna bangsa atau komunitas masyarakat. Jadi, Islam sejak semula lebih memperhatikan perjuangan moral melalui lembaga kemasyarakatan atau civil society dari pada institusi negara. Artinya Islam menjadi besar kalau ia tidak menampilkan wajah politik melainkan mengutamakan wajah moralnya. Sebab, Islam mengutamakan politik sebagai moralitas, bukan politik sebagai institusi.[32]

  1. 3.      Pluralisme Agama

Neo Modernis Islam berkomitmen kuat kepada pluralisme dan nilai-nilai inti demokrasi, sebagai nilai-nilai inti Islam itu sendiri. Kajian pendekatan teologis model seperti ini, menurut Amin Abdullah mengarah kepada kebersamaan dan penting untuk diterapkan.[33] Menurut Azhar Ibrahim Alwee, neo modernism Islam sangat menekankan Pluralisme agama disebabkan tiga hal; pertama, pluralisme agama adalah hak dan pertanggungjawaban semua agama. Kedua, pluralisme adalah pengikhtiratan bahwa semua manusia itu sama, sedangkan penghormatan kepada mereka harus dilakukan tanpa helah dan pengecualian. Ketiga,  menyadari kepelbagaian itu sebagai fitrah sosial yang menafikan itu sebagai realita kehidupan. Keempat pluralisme adalah rancangan partikular sebagai sebagai kebersamaan universal. Kelima, semangat kemanusiaan itu sendiri akan menjadi benih yang menyuburkan pluralisme dalam konteks-konteks plural dan rasa kebersamaan oleh karena itu doktrin Islam menganjurkan pluralisme.[34]

Selain pendekatan di atas, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Syamsul Hidayat mengenai visi al-Qur’an tentang metode dan pendekatan studi agama-agama, setidaknya masih ada delapan pendekatan. Kedelapan pendekatan itu adalah pendekatan historis, kritik, rasional intuitif, psikologis, sosiologis, dialogis, falsafi, dan perbandingan.[35]

Neo Medernis Islam melihat Pluralisme penting dari paparan kondisi masyarakat bangsa Indonesia yang ternyata menganut banyak agama, ada satu pertanyaan yang dapat dimunculkan di sini: Bagaimana menjadikan pluralitas agama yang dianut oleh masyarakat bangsa Indonesia sebagai media integrasi sosial agar tercipta kehidupan yang harmonis dalam kerangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.[36] Menurut Alwi Sihab, Untuk mempertegas pengertian pluralisme agama,terlebih dulu harus dikemukakan beberapa hal : “Pertama, pluralisme tidak sematamenujuk pada kenyataan temtang adnya kemajemukan. Kedua, pluralisme harus dibedajkan dengan kosmopolianisme. Ketiga Konsep pluralisme tidak disamakan dengan relativisme. Kempat, pluralisme agama bukanlah sinkritisme”.[37] Sedangkan menurut pendapat H. A. Shobiri Muslim, “Pluralisme agama adalah, bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak agama lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan, guna tercapainya kerukunaan dalam kebinekaan.”[38]

Dalam pandangan Islam, sikap menghargai dan toleransi kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan(Pluralitas). Namun bukan berarti beranggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme), artinya tidak menganggap bahwa Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian sembah. Pluralisme ini banyak dijalankan dan kian disebarkan oleh kalangan Muslim itu sendiri.[39] Solusi Islam terhadap adanya pluralisme agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum diinukum wa liya diin). Tapi solusi paham pluralisme agama diorientasikan untuk menghilangkan konflik dan sekaligus menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada.[40]

Di Indonesia, salah satu kelompok Islam yang mendukung pluralisme agama adalah Jaringan Islam neo modernis, yang memahami bahwa dasar negara Pancasila memberikan wacana penting pluralisme dalam perspektif penghargaan sepenuhna dari macam agama, etnis dan budaya.[41] Nurcholish Madjid benar dengan perkataannya bahwa Islam memberikan landasan teologis yang memadai untuk mencari titik temu antara penganut berbagai agama berkitab suci (Q.S. Ali ’Imran/3:64) dan jika titik temu gagal atau ditolak, maka masing-masing harus diberi hak untuk secara bebas memperta-hankan sistem keimanan yang dianutnya. Titik temu antara agama-agama adalah paham Ketuhanan Yang Maha Esa dalam sila pertama Pancasila.[42] Faktor penting dalam pluralisme adalah agama yang dikembangkan para intelektual muslim yang menganggap pluralisme adalah salah satu kebutuhan mendesak dalam rangka relasi yang baik antar agama.[43]

  1. 4.      Kemanusiaan dan Sosial

Berangkat dari segala peristiwa kemanusiaan yang terjadi dalam sejarah Indonesia, maka terpikir oleh kaum intelektual Islam untuk mengkritisi tentang konsep human being dan masalah-masalah yang berkaitan tentang peradaban manusia. Salah satu diantaranya munculnya Munir sebagai salah satu tokoh yang berbicara vocal kepada pemerintah tentang Hak Asasi manusia (HAM) yang pada akhirnya ia dibunuh pada perjalanan dengan pewawat Garuda menuju Belanda. Oleh karena itu golongan Islam neo modenis merasa hal ini adalah hal yang sangat serius untuk dipikirkan dan diterjemahkan dalam kehidupan bangsa dan agama Islam.

Islam Neo Modernis menjunjung tinggi HAM dan keadilan. Hal ini dibuktikan dengan sifat secara progresif dicirikan oleh kecenderungan pada nalar kritis dan keberpihakan pada keadilan dan kemanusiaan. Adapun Neo Modernis Islam ditandai oleh komitmen pada perdamaian global dan toleransi (mutual understanding).[44] Pemikiran tentang HAM dan keadilam berawal dari wacana pembaharuan Islam pada awal tahun 1970-an, yang diprakarsai gerakan pembaharuan, sebagai Neo-Modernisme oleh Barton, memunculkan pemikir Islam generasi muda yang memiliki latar belakang ke-Islaman dan kemodernan yang kuat. Oleh kerena itu, gerakan pembaharuan saat itu mengarah pada transformasi teologis dari orientasi politik menuju nilai-nilai etis atau etika yang menjunjung tinggi kemanusiaan.[45]

Teologi kerukunan memiliki semangat moderat dari kaum Neo Modernis, suatu sikap yang berlandas pada penghormatan atas keberadaan ‘yang lain’ (the other). Kebencian dan permusuhan tidak sejalan dengan pandangan bahwa setiap manusia memiliki fitrah yang cenderung kepada kebenaran. Jadi dialog antar agama yang gencar dilakukan untuk merepresentasikan karakter Islam moderat yang di kateogirkan sebagai Neo Modernis Islam. Dalam theologi kerukunannya terdapat kepentingan untuk membangun stabilitas, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan dan penghormatan kepada kemanusiaan dan keadilam (HAM). Golongan Neo Modernis menentang gelombang radikalisme yang muncul dari kalangan Islam sendiri dan mendukung perlawanan atas ketidak-adilan global.[46]

Dengan demikian, Neo Modernis Islam sangat membenci kekerasan. Sejarah mencatat bahwa kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Padahal Islam diturunkan oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh masyarakat dunia. Pesona ajaran Ijtihad yang dilatarbelakangi adanya ketidak-adilan adalah sebuah kebaikan, namun menggunakan teror terhadap masyarakat luas adalah kejahatan kemanusiaan. Dalam konteks situasi seperti ini, patut dimaklumi munculnya persepsi bahwa Neo Medernis Islam mengkampanyakan gerakan anti terorisme.[47] Dengan demikian, agenda Islam Neo Modernis tidak bisa dilepas dari upaya membangun kesaling-pahaman antar peradaban. Konferensi internasional para pemimpin Islam, utamanya adalah mendorong kelancaran dialog peradaban adalah masalah HAM dan Keadilan sosial.[48]

  1. E.       Pandangan dan Sikap Terhadap Orang Kristen.

Berangkat dari terjadinya berbagai peristiwa kekerasan yang panjang dalam perjumpaan Islam–Kristen dalam sejarah Indonesia, sejak zaman sukarno, zaman orde baru dan zaman reformasi, para pemikir intelektual Islam dari golongan neo modernis, mulai memikirkan dan mengembangkan gagasan serta wacana langkah terbaik untuk mengupayakan pemecahan berbagai masalah, serta menciptakan kehidupan bernegara, bermasyarakat dan beragama yang lebih sehat.[49]

Kelompok Islam neo modernis adalah kelompok yang memiliki pandangan inklusif, terbuka dan sekuler.[50] Oleh karena itu sikap mereka terhadap kekristenan adalah sikap yang terbuka dan menerima dengan baik kehadirannya di Indonesia. Salah satu yang sangat populer adalah pandangan Abdul Rahman Wahid (Gusdur) tentang civil society yaitu menciptakan masyarakat yang demokratis,  mandiri dan beradab.[51] Pandangan mengenai civil society adalah terjemahan dari konsep membangun masyarakat yang madani (masyarakat sipil) yang teridiri dari kelompok-kelompok sosial, politik atau arena masyarakat, kerjasama agama dan bebas dari kekerasan. Di dalam masyarakat ini, secara independent bekerjasama membangun ikatan-ikatan sosial diluar institusi Negara yang berpijak dari prinsip egalitarianism dan inklusifisme.[52]

            Kaum neo modernis Islam, menerjemahkan masyarakat madani sebagai bagian dari terjemahan Ijtihad baru yang dibangun atas dasar Syariat Islam. Atas dasar ini, banyak diantara intelektual muslim menciptkan dialog antar agama, memperbolehkan umat Kristen untuk melaksanakan ibadah dengan sebebas-bebasnya serta bersama-sama memikirkan masyarakat yang beradab dan berkeadilan. Oleh karena itu Nurcholish Madjid menegaskan bahwa aspirasi keagamaan telah mendapatkan sarana baru untuk dikembangkan yaitu dengan modernisasi dimana pendekatan ilmiah dan empiris juga dapat digunakan untuk me-reinterpretasi pesan-pesan universal Islam bagi kemaslahatan sosial dan budaya Islam sehingga Kekristenan jangan dianggap musuh tetapi sahabat.[53]

Bukti dari keterbukaan Islam Neo Modernis di Indonesia adalah, turut mengkritisi gerakan Islam radikal yang menganggap Kristen sebagai kafir. Kaum neo medernis melibatkan intelektual Kristen untuk turut bersama-sama dalam mengembangkan prinsip peradaban dalam rangka HAM dan keadilan, melalui seminar dan dialog. Selain itu, mereka juga hadir dalam acara-acara besar agama Kristen, seperti Natal dan Paskah. Juga mereka hadir dalam doa bersama yang lakukan oleh orang Kristen.

 HIDUP BERSAMA DAN BERSAKSI DALAM KONTEKS ISLAM NEO-MODERNIS

 A.      Dasar Hidup Bersama dan Bersaksi

     Karena karakteristik Islam Neo Modernis lebih terbuka dan iklusif, maka dasar hidup bersama dan bersaksi dalam konteks modes Islam seperti ini harus dilihat dari 3 aspek, yaitu; 1) Aspek Theologis, 2) Aspek Sosiologis, dan  3) Aspek Ideologis Negara  Indonesia Pancasila.

  1. 1.        Dasar Theologis

Dasar theologis untuk dari hidup bersama dan bersaksi dengan Islam Neo Modernis adalah: Fungsionalitas Gereja sebagai pengemban misi Allah, Manusia sebagai gambar Allah, kasih dan kebenaran.

  1. a.        Fungsionalitas Gereja

Secara theologis, hidup bersama dalam komunitas merupakan dasar penting dalam membangun relasi satu dengan yang lain sebagai sesama umat ciptaan Allah. Gereja mengemban misi tugas dan panggilan misionernya bukan hanya sebatas memberitakan Injil (Matius 28:19-20), tetapi menjadi garam dan terang bagi dunia (Matius 5:13-16).[54]  Fungsionalitas gereja adalah alat bukan tujuan,  hakekat gereja dihadirkan oleh Allah untuk ikut ‘berpartisipasi’ dalam misi Allah kepada dunia ini. Dunia dalam seluruh dimensinya, baik ekonomi, sosial, budaya, bahkan politik[55] yang selama ini dilihat sebagai bidang yang ‘kotor”, adalah sasaran dari misi Allah itu. Inti misi Allah itu adalah misi Kristus, yaitu apa yang telah dikerjakan oleh Allah di dalam Kristus. Tujuan Kristus datang ke dunia adalah, menyaksikan dan menjadi perwujudan betapa besarnya kasih Allah pada dunia ini, dan  melaksanakan tugas penyelamatan yang diberikan Bapanya. Karena itulah, maksud kedatangan Yesus ke dunia bukanlah mendirikan agama baru atau gereja tertentu. Karena itu pula, Eka menolak pemahaman bahwa misi gereja yang paling utama adalah mendirikan atau membesarkan institusi Gereja. Untuk melaksanakan misi Kristus ini, maka Yesus mendirikan Gereja dan mengutusnya ke dalam dunia (Yoh. 20:21). Karena Kristus yang mendirikan gereja, maka hanya Kristuslah yang menjadi dasar hidup bergereja. Dialah pemilik, pendiri, dan kepala gereja (I Kor. 3:11).

Tetapi Yesus mendirikan Gereja, bukan sebagai tujuan, tapi sebagai alat. Ibaratnya surat, pengirimnya adalah Allah, isinya adalah pemberitahuan tentang kasih Allah dan tawaran keselamatan dari Allah, alamatnya adalah dunia, BUKAN GEREJA. Tugas Gereja sangatlah penting: sebagai “Pak Pos” (Rom. 10: 13-15). Pak pos (Gereja) yang baik adalah pak pos yang setia mengantarkan isi surat (kasih Allah) dari pengirimnya (Allah), kepada alamat (dunia) yang ditujuinya, tidak menambah, mengurangi, atau menyimpan surat itu untuk dirinya sendiri (Bdk.Yoh.3:16). Subjek sekaligus penentu dalam misi Allah hanyalah Allah. Makna dan identitas Gereja lebih secara fungsional, yaitu harus membawa manfaat, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi terutama bagi dunia ini. Gereja tidak punya arti, walaupun ia besar, termegah, terkaya, kalau manfaat itu dirasakannya sendiri.

Untuk melaksanakan misi Allah dan melanjutkan misi Kristus di dunia, maka Gereja ditugaskan untuk bersaksi, bersekutu, dan melayani (Tri Panggilan Gereja). Ada tugas keluar, dan ada tugas ke dalam. Ketiga tugas ini tidak bisa dipisah-pisahkan, tapi satu kesatuan yang utuh. Persekutuan yang harus dibina adalah persekuatuan yang bersaksi dan melayani; Kesaksian yang harus dilaksanakan adalah kesaksian oleh persekutuan dan kesaksian yang dibarengi oleh pelayanan; Pelayanan adalah pelayanan di dalam dan oleh persekutuan dan pelayanan yang merupakan kesaksian. Semua tri panggilan Gereja ini berdiri atas dasar Kristus sendiri (Bdk. I Kor. 3: 11). Kristuslah sumber motivasi persekutuan, pelayanan, dan kesaksian Gereja, bukan oleh diri, Gereja, atau kelompok kita. Karena itulah hidup bersama dan bersaksi, harus dilakukan dalam kerangka misi yang lebih luas. Kesaksian injil bukan sekadar asal jalan, demi sukses kuantitas jangka pendek. Dalam hidup bersama dan bersaksi, harus dengan sungguh mempertimbangkan konteks negara pancasila, yaitu yang menjamin kebebasan beragama, sekaligus menjaga kerukunan beragama. Hidup bersama dan bersaksi bukanlah ekspansi agama atau proselitisasi, tetapi kegembiraan berbagi rasa pengalaman iman di dalam Kristus. Kita menjadi saksi Kristus, bukan saksi Gereja atau agama. Pusat pewartaan kita hanyalah Kristus, yaitu lebih pada mewujudnyatakan kehendak Kristus dalam kehidupan manusia. Tugas kita bukan meng-Kristenkan, tapi meng-Kristuskan[56].

Gereja Sebagai Komunitas Eksemplaris Dengan hidup bergereja yang selama ini bertentangan dengan visi dan misi keberadaan Gereja di dunia. Kecenderungan Gereja yang hanya mencari rasa aman dan kepentingan diri sendiri harus segera diubah. Gereja seharusnya kembali menghadirkan diri sebagai komunitas eksemplaris (komunitas percontohan), yaitu sebagai suatu gerakan moral bagi keadilan, kebenaran dan kebebasan dalam keberpihakannya bersama rakyat kecil. Integritas moral dan spiritual Gereja harus nampak dalam kehadirannya bersama semua komponen bangsa ini. Gereja harus dibebaskan dari kehadirannya yang menyerupai jawatan, dan mulai dengan sigap, peka terhadap persoalan yang terjadi di masyarakatnya, karena ia adalah bagian yang integral dari masyarakatnya. Lebih berorientasi kepada yang fungsional, bukan formalistik. Gereja tidak lagi hadir sebagai kekuatan yang eksklusif dan ekspansif, melainkan inklusif, inspiratif, dan rekonsiliatif. Ia adalah hamba yang siap mengabdi bagi semua orang.[57] Hal ini dimulai dari diri sendiri, bukan secara massal atau spektakuler, tetapi sikap hidup berdasarkan Injil. Sebagai kelompok minoritas di negeri ini, kualitas hidup orang Kristen harus nampak, menjadi nilai  lebih yang dapat menarik orang lain. Karena itu, Gereja tidak boleh terjebak dalam usaha yang hanya memperjuangkan kepentingannya sendiri, tetapi bersama-sama berjuang bagi keadilan, kebenaran, kebebasan, perdamaian, bagi semua orang, bagi seluruh bangsa ini.[58]

  1. b.    Manusia dicipta menurut Gambar dan Rupa Allah.

Apakah manusia? Ada beragam jawaban yang masing-masing memiliki implikasi yang luas bagi pemikiran dan kehidupan. Berbagai pandangan mengenai eksistensialisme sebagai suatu cara berpikir dalam filsafat, teologi dan sastra juga turut memberikan penekanan baru, yaitu bahwa eksistensi seseorang lebih penting daripada esensinya – bahwa untuk memahami seseorang maka aspek-aspek unik dan tidak bisa diulang dari pribadinya lebih penting dibandingkan aspek-aspek yang dimilikinya bersama dengan orang-orang lain. Jadi eksistensialisme merupakan suatu cara baru dalam mengajukan pertanyaan “apakah manusia itu?”. Ketika keparcayaan kepada Allah semakin langka maka kepercayaan kepada manusia mengambil alih dan kita menyaksikan munculnya sebuah humanisme baru.[59]

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang terbaik, tersempurna, teristimewa, dan terunik. Namun, kadang-kadang kita tidak sadar akan nilai pribadi manusia. Sering kali manusia salah berpikir seperti “Saya adalah seperti yang orang lain katakan tentang saya” atau “Saya akan menemukan nilai diri saya dalam pendapat mereka tentang saya”. Citra diri atau gambar diri yang tidak benar akan membuat siapa saja tidak menjadi manusia yang utuh serta menghambat hubungannya dengan sesama. Padahal sebagai makhluk sosial, kita harus berinteraksi dengan makhluk hidup yang lain.

Dunia memahami bahwa manusia ada karena faktor kebetulan, sehingga tidak perlu bertanggung jawab kepada Allah karena manusia bukan diciptakan oleh Allah. Firman Tuhan secara jelas mengatakan bahwa manusia berada karena ciptaan Tuhan. Bahkan manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling tinggi dan mencerminkan karakter Allah.[60]

Dalam Kejadian 1:26–27 Allah menciptakan manusia baik laki-laki maupun perempuan menurut gambar dan rupa Allah. Kata “Gambar” ( Ibr. tselem) digunakan untuk patung dan model kerja. Secara tidak langsung dikatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat pencerminan sesuatu yang berkaitan dengan sifat dasar Allah. “Rupa” (Ibr. demuth) digunakan untuk pola, bentuk, atau ukuran yang adalah sesuatu seperti Allah pada diri mereka.[61] Bagi Hoekema kata demut dan tselem dipakai untuk menjelaskan gambar dan rupa. Sesungguhnya kedua kata ini tidak ada perbedaan esensial hanya merupakan satu cara untuk mengatakan “menurut gambar kita” dan dipertegas dengan mengatakan “menurut rupa kita”. Bagaimana manusia menyerupai Allah tidak dijelaskan secara spesifik dan eksplisit  namun yang pasti manusia adalah representasi dari Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa gambar Allah dalam diri manusia tersebut rusak namun manusia tidak kehilangan gambar itu. Hal yang menarik disini adalah bahwa manusia yang menyakiti atau membunuh sesamanya memiliki pengertian menyakiti dan melukai sang pemilik gambar dengan kata lain melakukan pelanggaran terhadap Allah sendiri.[62]

Manusia adalah satu ciptaan sekaligus satu pribadi; ia adalah pribadi yang diciptakan. Menurut saya, inilah misteri keajaiban manusia. Ia menjadi ciptaan dan pribadi pada saat yang sama. Sebagai ciptaan ia bergantung pada Allah (Rm  9:21) dalam segala hal dan sebagai pribadi ia memiliki kemandirian yang relatif dan dapat membuat keputusan-keputusan (Gal 6:7-8). Misteri ini menjadi paradoks. Namun kita harus menerima dua sisi manusia yaitu peri-keterciptaan (Creature-liness) dan peri-kepribadian (personhood). Namun alkitab lebih banyak berbicara manusia sebagai pribadi (Yos 24:15, 2Kor 5:20).[63] Keunikan manusia ciptaan Allah inilah yang bagi Teolog Reform dan Calvinis sebagai aspek ciptaan yang bergantung kepada Allah secara total dan kedaulatan Allah dlam segala bidang kehidupan khususnya menyangkut karya penyelematan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.[64]

Menurut William Dyrness gambar dan rupa merupakan istilah-istilah yang paralel untuk menyatakan satu gagasan. Ditegaskan juga oleh Henry C. Thiessen bahwa tidak ada perbedaan berarti di antara kata-kata Ibrani kedua kata tersebut.[65] Gambar dan rupa Allah menunjuk kepada keberadaan manusia yang berkepribadian dan bertanggung jawab di hadapan Allah, yang pantas untuk mencerminkan Pencipta mereka dalam pekerjaan yang mereka lakukan, serta mengenal dan mengasihi Dia dalam segala perbuatan mereka.[66] Perlu dingat bahwa manusia adalah gambar Allah bukan Allah.  Presuposisi dasar dari pandangan Kristen tentang manusia adalah kepercayaan kepada Allah sebagai pencipta. Manusia tidak bereksistensi secara otonom melainkan  ciptaan Allah (Kej.1:1,27).Manusia tidak dapat mengankat satu jaripun di luar kehendak Allah.[67]

Uraian di atas dapat disimpulkan dalam dua pengertian ini; Pertama, Gambar Allah merupakan aspek yang tidak mungkin hilang dari manusia, bagian dari esensi dan eksistensinya yang tidak mungkin hilang tanpa membuat manusia menjadi bukan manusia lagi. Kedua, Akan tetapi, gambar Allah juga harus dipahami sebagai keserupaan dengan Allah yang telah diselewengkan ketika manusia jatuh ke dalam dosa dan sekarang terus menerus dipulihkan dan dibaharui dalam proses pengudusan. Dengan demikian dasar hidup bersama dan bersaksi memandang manusia sebagai gambar Allah, membuat gereja dan orang Kristen melihat dari sisi kemanusiaan, menghargai agama lain dalam perspektif mereka juga adalah citptaan Allah. Sama dengan Neo Modernis Islam menghargai HAM.

  1. 2.        Dasar Sosiologis; (Pluralitas/Kemajemukan)

Secara sosiologis, masyarakat dunia adalah plural. Pluralitas dunia ini digambarkan secara “multicultural” dandiversitas” dalam bentuk budaya, suku, bangsa, bahasa, agama dan kepercayaan. Kenyataan akan adanya realitas dunia yang plural ini, membawa kepada perbedaan konsep dan cara berpikir manusia. Konsep dan cara berpikir manusia dalam dunia yang plural ini, terus berkembang seiring dengan zaman yang terus berubah. Salah satu hal yang sangat menyolok adalah adanya realitas pluralitas agama dan semakin banyak munculnya “aliran” atau “sekte” baru dalam agama-agama selama dasawarsa satu abad yang sedang dan sementara berjalan ini. Dari konsep pemikiran yang berbeda dan perkembangan pemikiran inilah kemudian muncul suatu konsep pluralitas agama.[68]

Fakta tentang adanya paham pluralitas agama ini, memunculkan paradigma baru dalam beragama. Menurut Leslie Newbigin langkah awal untuk memahami keadaan ini adalah dengan terlebih mengakui adanya pluralitas itu sendiri.

It has become a commonplace to say that we live in a pluralist society—not merely a society which is in fact plural in the variety of cultures, religions and lifestyles which it embraces, but pluralist in the sense that this plurality is celebrated as things to be approved and cherished.[69]

Demikian pula ketika gereja dalam perjalanan sejarahnya harus berhadapan dengan masyarakat yang pluralis di mana-mana, mau tak mau realita pluralitas iman sebagai sebuah fakta kehidupan harus diakui dan diterima.

Adanya pluralitas agama ini, secara otomatis membawa kepada pandangan-pandangan yang berbeda oleh para cendekiwan, theolog disemua kalangan (Kristen dan non-Kristen), baik bersifat spekulatif maupun bersifat komprehensif. Ada dua aliran yang berbeda dalam memahami paham pluralism agama, yaitu aliran kesatuan transenden agama-agama (transcendent unity of religion[70]) dan aliran theologi global (global theology[71]).

Menurut Christian Sulitio, pluralitas agama harus dipahami. Pertama, ia dapat menunjuk kepada fakta kemajemukan agama yaitu fakta berbagai macam agama di sepanjang sejarah manusia dalam berbagai kebudayaan. Pluralisme agama dalam pengertian ini adalah sebuah pernyataan tentang fenomena obyektif kemajemukan agama-agama. Kedua, pluralisme agama menunjuk kepada fakta kemajemukan agama dan kesadaran terhadap fakta tersebut. Kesadaran yang membawa kepada persetujuan dan pengakuan bahwa kemajemukan agama merupakan sesuatu yang baik.[72]

  1. B.            Pendekatan dalam Hidup Bersama dan Bersaksi
  2. 1.      Pendekatan Inklusif (Doktrin Ekslusif dan Agama inklusif).

Pendekatan inklusif ini harus dipahami bahwa orang Kristen harus tetap mempertahankan keunikan pernyataan Allah di dalam Yesus Kristus, tetapi juga terbuka terhadap kenyataan adanya berbagai agama disekelilinginya, harus membangun relasi dengan agama-agama lain secara khusus bersuara dalam HAM, sosial dan keadilan.[73] Pengakuan tentang pluralitas Agama berada pada tataran sosial, yakni bahwa secara sosiologis kita memiliki keimanan dan keyakinan masing-masing. Persoalan kebenaran adalah persoalan dalam wilayah masing-masing agama. Dengan demikian Gereja diharapkan tidak menempatkan diri sebagai kekuatan yang eksklusif dan tidak bersifat “arogansi” dalam pemberitaan Injil. Gereja bersikap inklusif, inspiratif, dan rekonsiliatif dalam perspektif kerukunan antar agama dan kebangsaan dalam negara Pacasila.

Untuk menjadikan pluralitas agama sebagai media integrasi sosial dalam kerangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, maka harus ada upaya Gereja atau umat Kristen merubah sikap dan pandangan yang semula eksklusif menjadi sikap dan pandangan keberagamaan yang pluralis atau inklusif. Artinya pandangan Ekslusif Gereja atau umat Kristen ditempatkan pada konsep iman dan kepercayaan. Sedangkan sikap inklusif Gereja atau umat Kristen berada pada rana saling terbuka dengan agama lain dalam bidang social, kemanusiaan dan keadilan.

Sikap dan pandangan ini cocok untuk dijadikan sebagai alat dalam menyikapi pluralitas agama untuk kemudian dikelola menjadi media integrasi social masyarakat bangsa Indonesia. Diantara upaya tersebut adalah pertama, kaharusan menggunakan metode dan pendekatan yang beragam dalam melakukan studi agama. Selama ini studi agama lebih banyak dilakukan dengan hanya menggunakan metode dan pendekatan tertentu, seperti: pendekatan teologis. Pendekatan teologis adalah pendekatan yang normatif, subyektif terhadap agama, yang bisa dilakukan oleh seorang penganut suatu agama dalam memahami agama orang lain dengan perspektif agama yang dianutnya.

  1. 2.      Pendekatan  Dialog Antar Agama dan kebudayaan

Dialog adalah upaya untuk menjembatani bagaimana benturan bisa dieliminir. Dialog memang bukan tanpa persoalan, misalnya berkenaan dengan standar apa yang harus digunakan untuk mencakup beragam peradaban yang ada di dunia. Perlu adanya standar yang bisa diterima semua pihak. Dengan kata lain, perlu ada standar universal untuk semua. Standar itu hendaknya bermuara pada moralitas internasional atau etika global, yaitu hak asasi manusia HAM, kebebasan, demokrasi, keadilan dan perdamaian. Hal-hal ini bersifat universal dan melampaui kepentingan Agama tertentu.

Untuk bisa bersaksi dalam konteks Islam Neo Modernis adalah dialog, baik dialog antar iman (inter-faith dialogue) maupun dialog antar agama (inter-religious dialogue). Dialog ini dipakai untuk menciptakan toleransi beragama, meningkatkan kerukunan antar umat beragama, Searah dengan ini, Budhy Munawar-Rachman menegaskan;

Setiap agama bisa menjelaskan alasan mengapa suatu agama perlu masuk dalam dialog antar-agama, yang didalamnya akan di dalami bersama partner dialog, “a new depths of understanding of God’s saving ways”. Di sini setiap agama akan mempersiapkan komunitas beragama dalam kepemimpinan teologis dalam memasuki dialog antar-agama itu.[74]

Jadi dapat dijelaskan bahwa, hanya melalui dialog antar-agama dapat menjadi harapan keharmonisan dan masyarakat madani terwujud.

Kesadaran akan adanya kebenaran dari agama-agama dalam aspek kealahannya dan aspek soteriologinya, melalui pengalaman iman agama mereka masing-masing membawa kepada “pertobatan yang dialogis”.[75] Hal ini ditegaskan C.S.Song bahwa:

Siapakah yang mengatakan bahwa dialog dengan orang-orang dari agama-agama lain tidak boleh mempunyai maksud-maksud pertobatan yang tersembunyi? Semua yang mengambil bagian dari dialog tersebut – orang-orang Hindu, Kristen, Budhis, Yahudi, Islam – mengatakan demikian. Ini adalah dasar dari permainan.[76]

Jadi pertobatan dialogis yang dimaksudkan oleh Song merupakan fakta bahwa melalui dialog, orang Kristen secara langsung bisa bersaksi kepada mereka yang belum mendengar dan mengenal Kristus. Kalaupun seseorang mengalami pertobatan lewat dialog, kenyataan itu harus dapat diterima semua pihak secara positif dan wajar. Dialog mensyaratkan sikap konsisten, terbuka, kerendahan hati dan keterus-terangan sehingga dialog dapat memperkaya dan memperbarui masing-masing pihak. Dialog meminta keseimbangan sikap, kemantapan dan menolak indeferentisme (paham yang menyamakan semua agama sama) dan tidak menghendaki teologi universal.[77] Dalam dialog setiap orang harus diterima sebagaimana ia memahami dirinya sendiri. Oleh sebab itu, masing-masing hanya dapat berbicara untuk dirinya sendiri berdasarkan posisinya sendiri. Tentu posisi ini tidak boleh menjadi dogma kaku, melainkan ia harus dinamis sesuai situasi yang berubah.[78]

Keharusan mengintensifkan dialog antar agama secara terstruktur dan terjadwal dengan baik. Tidak hanya sekedar melakukan dialog ketika telah terjadi ketegangan dan bentrokan antar pengikut agama. Dialog antar agama dilakukan bukan ketika terjadi pembakaran gereja atau penyerangan dari kelompok tertentu. Melalui forum dialog agama, dapat disampaikan berbagai pandangan mengenai kemajemukan yang menjadi bagian dari realitas masyarakat dunia, yakni masyarakat yang beraneka ragam, baik agama, suku, daerah, adat kebiasaan dan sebagainya. Dalam suasana kemajemukan seperti ini diharapkan tumbuh sikap saling menerima sebagaimana adanya, komunikasi semakin intensif, tumbuh sikap bersama yang sehat, mengakui segi-segi kelebihan orang lain dan mendorong sama-sama melakukan kebajikan dalam masyarakat. Perbedaan yang ada diterima dalam kerangka perbedaan atau setuju dalam perbadaan. Pluralitas dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Tidak ada hidup tanpa pluralitas dalam arti antar ummat, dalam kapasitas inilah orang Kristen bisa bersaksi siapakah Yesus.

Gereja atau umat Kristen harus mempunyai sikap toleran, akomodatif, terbuka terhadap segala perbedaan, dan pluralis, harus ditanamkan sejak usia dini melalui lembaga pendidikan baik formal maupun non formal. Ini menjadi tugas Gereja, orang tua dan pemerintah dengan cara melakukan reevaluasi proses pendidikan dan pengajaran akidah baik ditingkat sekolah dasar, menengah, maupun perguruan tinggi, menyangkut materi, guru, dan dosen yang mengampu mata pelajaran/kuliah tersebut.

Beragam bentuk dialog dapat dipraktekkan seperti (1) dialog kehidupan di mana masing-masing memelihara solidaritas dan kebersamaan; (2) dialog melalui percakapan di mana para ahli mempercakapkan ajaran agama mereka masing-masing; (3) dialog spiritualitas lewat ibadah dan doa bersama dari beragam agama; dan (4) dialog dalam tindakan lewat kerjasama mengusahakan kedamaian dan keadilan.[79] Tujuan dalam dialog dapat ditetapkan misalnya (1) memupuk persauda-raan lintas agama, (2) merayakan bersama hari raya agama dan nasional,  (3) menghindari sikap intoleran dan mencegah konflik komunal, dan (4) mengupa-yakan keadilan sosial dengan merancang berbagai pendekatan konstruktif terhadap masalah-masalah sosial.[80]

  1. 3.      Pendekatan Karakter; Memiliki Keteladanan Hidup

Melalui aspek Fungsionalitas Gereja secara nyata kepada agama lain, dalam pengertian membawa manfaat kepada non Kristen (Gereja seharusnya kembali menghadirkan diri sebagai komunitas percontohan, yaitu sebagai suatu gerakan gerakan  moral bagi keadilan, kebenaran dan kebebasan dalam keberpihakannya bersama rakyat kecil. Integritas moral dan spiritual Gereja harus nampak dalam kehadirannya bersama semua komponen bangsa ini)

Gereja sebagai hamba yang siap mengabdi bagi semua orang. Hal ini dimulai dari diri sendiri, bukan secara massal atau spektakuler, tetapi sikap hidup berdasarkan Injil. Sebagai kelompok minoritas di negeri ini, kualitas hidup orang Kristen harus nampak, menjadi nilai lebih yang dapat menarik orang lain. Karena itu pula, Gereja tidak boleh terjebak dalam usaha-usaha yang hanya memperjuangkan kepentingannya sendiri, tetapi bersama-sama dalam perjuangan bagi keadilan, kebenaran, kebebasan, perdamaian, bagi semua orang, bagi seluruh bangsa ini.

Perkataan dan perbuatan adalah hal penting dalam hidup bersama dan bersaksi dalam konteks Islam Neo modernis yang lebih menekankan pada karakter agama yang menghargai subjektifita perbuatan baik seseorang. Setidaknya ada dua hal yang berkaitan dengan keteladanan hidup. Pertama, menempatkan perkataan dan perbuatan, pemberitaan dan tindakan dalam dasar kebenaran yang diajarkan oleh Alkitab yang juga diterima oleh agama lain.  Kehidupan yang total dari persekutuan yang dimampukan oleh Roh Kudus untuk hidup dalam Kristus. Perkataan-perkataan menerangkan perbuatan-perbuatan dan perbuatan-perbuatan mensahkan perkataan-perkataan. Kedua, perbuatan untuk keadilan dan perdamaian dunia bukanlah suatu yang sekunder dalam hidup bersama dan bersaksi. Yesus adalah inti dari pekabaran Injil oleh karena itu, setiap perbuatan orang Kristen juga adalah cerminan dari Kristus.[81]

 

  1. 4.      Pendekatan Kemanusiaan dan Keadilan

Konflik kemanusiaan dan keadilan di negeri ini, misalnya konflik horizontal antar agama yang terjadi di Poso dan Ambon. Dalam realitas yang penuh kebencian dan dendam itu, orang Kristen harus berinsiatif untuk berdamai dengan orang lain (Mat. 5: 23-24). Bambang Ruseno Utomo menegaskan bahwa dalam keadaan ini masalahnya bukan lagi masalah agama atau masalah theologies saja, melainkan sudah berkembang menjadi masalah yang universal yang terkait satu dengan yang lain. Seperti aspek social, aspek ekonomi, hokum, keadilan, pendidilan, kemisikinan, kerohanian dan jesmani, juga kemakmuran dan pengangguran.[82]

Berkaitan dengan tersebut di atas, orang Kristen seharusnya membuang semua prasangka, mengendalikan emosi dan sentimen-sentimen naluri, bersedia menjamah mereka yang menderita, menyapa mereka yang dibakar amarah, dengan sepenuh hati berada di tengah-tengah penderitaan dan pencobaan umat manusia. Orang Kristen harus berhenti melihat orang lain sebagai musuh, tetapi melihatnya sebagai sesama manusia, dengan menghargai integritas sepenuhnya dari kemanusiaannya yang juga diberikan oleh Allah.

Pendekatan kemanusiaan dan keadilan dapat dilihat dari dua kategori. Pertama, kategori sosial. Dalam pengertian ini, wawasan kemanusiaa bisa dimengerti dalam slogan ”semua agama berhak untuk ada dan hidup” pendekatan ini sesuai dengan dasar dari hidup bersama yaitu memandang agama lain sebagai ciptaan Allah. Secara sosial, kita harus belajar untuk toleran dan bahkan menghormati iman atau kepercayaan dari penganut agama lainnya, kalau perlu membantu mereka dalam hal obat dan makanan. Kedua, kategori etika atau moral. Dalam hal ini kemanusiaan berarti bahwa ”semua pandangan moral dari masing-masing agama bersifat relatif dan sah”.[83] Jika orang Kristen memandang kemanusiaan dalam nuansa etis, orang Kristen didorong untuk tidak menghakimi penganut agama lain yang memiliki pandangan moral berbeda, misalnya terhadap isu pernikahan, aborsi, hukuman gantung, eutanasia dll.

Mengapa kita harus berhenti untuk saling membenci? Ada 3 alasan yaitu: pertama, bahwa membalas kebencian dengan kebencian adalah melipatgandakan kebencian; kekerasan membuahkan kekerasan. Kedua, kebencian menoreh jiwa serta merusak kepribadian, baik kepada objek (penderita) maupun sang subjek (pelaku). Ketiga, karena kasih merupakan satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah seteru menjadi sahabat.

Kemanusiaan dan keadilan direalisasikan kepada lebih mencintai ketika kita semakin dibenci; kerendahan hati untuk semakin menerima mereka yang menolak kita; membuktikan bahwa kuasa mengasihi dan mengampuni adalah satu-satunya kuasa yang mampu mengatasi nafsu amarah, benci, dan dendam (bdk. dengan Kol. 1: 19- 20; Ef. 2:16).29

Agama tidak mutlak, hanya Allah yang mutlak, sehingga kita bukan menyembah agama, tetapi menyembah Allah. Agama harus dipahami lebih secara fungsional, yaitu alat untuk melayani Allah dan mendatangkan syalom dari Allah bagi kesejahteraan manusia. Di tengah bangkitnya kembali perasaan keagamaan, kebangkitan Agama tidak dibarengi dengan kebangkitan etika. Kemiskinan, ketidakadilan, korupsi, pelanggaran HAM, kerusakan lingkungan hidup, adalah persoalan-persoalan bersama agama-agama. Di pihak lain, kekuatan-kekuatan yang memiskinkan, menindas, menimbulkan rasa takut, merampas hak hak asasi manusia, yang merusak alam ciptaan, keserakahan dan kerakusan akan kuasa dan harta yang tak pernah terpuaskan, adalah “iblis dan syaitan” dalam arti yang sebenarnya. Musuh agama, bukanlah agama lain, tapi “syaitan-syaitan” itu. Ketika agama-agama berhasil mengatasi jebakan institusionalisme, formalisme, dogmatisme, dan ritualismenya, lalu mulai dengan serius menaruh kepedulian etis, ketika itulah pintu dialog dan kerjasama antar agama terbuka lebar.

 

P E N U T U P

Kesimpulan

Hidup bersama dan bersaksi dalam konteks Islam Neo Modernis secara khusus dan dalam kemajemukan budaya dan agama-agama pada umumnya didasari oleh pemahaman fundamentalis gereja berdasarkan prinsip theologis benar. Dasar tersebut adalah memperdasayakan fungsi gereja yang sesungguhnya untuk menyatakan tugas yang dimandatkan oleh Kristus untuk menjadi berkat bagi sesama. Sesama yang dimaksud adalah manusia yang diciptakan Allah yang segambar dan serupa dengan-Nya. Penghargaan sepenuhnya pada nilai-nilai hidup manusia merupakan dasar yang jelas dalam hidup bersama di tengah-tengah bangsa yang plural dan mejemuk, baik dalam budaya, sosial dan Agama. Masyarakat Indonesia sudah saatnya memiliki paradigma yang baru dalam realitas kemajemukannya, secara khusus dalam agama Kristen. Kepelbagaian agama hendaknya dapat dijadikan sebagai sumber kekuatan yang dapat disinergikan dalam menghadapi persoalan-persoalan kemanusiaan yang berat sekarang ini. Permasalahan kemanusiaan seperti kemiskinan, kebodohan, gender, ketidakadilan, dan rentannya terjadi konflik agama haruslah dihadapi bersama. Oleh karena itu, untuk mengadakan pendekatan dengan agama lain maka hal yang perlu diperhatikan adalah pendekatan-pendekatan naturalis dan manusiawi yang disepakati dipahami bersama baik dari Kristen maupun dari Islam, terisitimewa Islam Neo Modernis.

Tugas orang Kristen sebagai umat Allah yang dipilih dan diberikan misi Allah adalah menjadi berkat dan teladan bagi orang lain serta memberitakan Injil Allah bukan dalam cara yang arogan tetapi penuh hikmat, sehingga di dalamnya tercipta damai dan sejahtera. Kesaksian gereja selalu berlangsung di dalam lingkungan yang majemuk, oleh karena itu Kekristenan di tuntut untuk “bersaing” bukan dalam pengertian menunjukkan kesombongan tetapi “berlomba-lomba” untuk melakukan perbuatan baik bukan supaya masuk surga tetapi berkat dan kemuliaan serta mahkota telah tersedia bagi setiap orang yang taat dan setia.                                    Supaya tugas dan fungsi gereja ini bisa berjalan dengan baik, maka setiap orang Kristen harus memahami dengan benar siapa dan bagaimana kontek Islam Neo Modernis. Pada prinsipnya golongan Islam Neo Modernis terbuka dan sangat memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Mereka ingin membangun satu umat atau bangsa yang memiliki masyarakat yang madani untuk satu tujuan yaitu masyarakat yang damai dan tentram.   


[1]Hal ini seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam  Matius 10:16 “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

[2]Bambang Ruseno Utomo, perkuliaahan Islamologi kontemporer pascasarjana I3 Batu Malang, 26-30 April 2010.

[3]Bukti-bukti sejarah dapat digunakan untuk mendukung adanya ketegangan, konflik, perang antar agama, karena alasan agama. Pada abad pertengahan, misalnya, telah terjadi perang salib antara Islam dengan kristen yang menjadi noda hitam bagi hubungan keduanya. Memasuki abad modern, perang ini sesungguhnya hingga kini masih terjadi, walaupun mengambil bentuk yang berbeda. perang Amirika-Irak, dapat dipahami sebagai perang atas nama agama, karena dalam pidatonya, George W. Bush, menyebutnya dengan istilah “Crusade”, perang suci atas nama agama. Kasus Ambon dan Poso, pembakaran gereja dimana-mana dll.

[4] Inilah problem terberat umat beragama dalam menampilkan diri di tengah-tengah pluralitas agama yang juga menjanjikan jalan kebenaran dan keselamatan yang seringkali memunculkan truth claim. Ajith Fernando tegaskan: ”Other relegions are false paths that mislead their followers” (B.M. Rahman, 2001: 34).

[5]Hugh Goddard, Christians & Muslims: From Double Standards to Mutual Understanding (New Zealand Journal of Asian Studies 4, 2 (December, 2002): 53.

[6]Adanya kompleksitas tatanan sosial dalam masyarakat modern membawa kepada sikap religiustas untuk mengambil alih sikap dan tindakan sosial dalam persoalan etis dan kemanusiaan, sehingga masing-masing agama terjebak dalam saling menuding karena memiliki motivasi ekspansi agama. (Abraham Kuyper, Iman Kristen dan Poblema Sosial [Surabaya” Momentum, 2004]),12-13.

[7]Bagi umat agama manapun, pluralitas agama harus dikaji dan dimanfaatkan dalam konteks mengkaitkan secara positif realitas teologis dengan realitas sosial. Pengalaman spiritual kita seringkali membuktikan ketika kedua realitas itu tidak mampu disatukan maka akan mudah memicu terjadinya konflik antar agama. Dalam konteks ini, kemampuan dalam memposisikan dan memanfaatkan kedua realitas tersebut sebagai bagian obyektif dari pemenuhan kebutuhan menjadi keharusan bagi setiap umat agama. Dengan metode ini setiap agama senantiasa mampu mengantisipasi cara terbaik untuk hidup bersama dalam secara rukun dan damai. (Amir Tajrid, “Menjadikan Pluralitas Agama Sebagai Media Integrasi Sosial; Ikhtiar Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa”: Artikel STAIN Samarinda, [Sepetember 2005]).

[8]Lahir tahun 1919 di daerah Barat Laut Pakistan. Pendidikan; MA di University Sastra Arab tahun 1942. Ph.D di Oxford University di Inggris tahun 1951. Mengajar di  Durham University, Inggris, kemudian di Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, di mana ia menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy. 1960-an menjadi seorang staf senior pada Institute of Islamic Research di Pakistan. Pada Agustus 1964  manjadi anggota Advisory Riset Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan. (Artikel lepas “Para Pembaharu Akhir Abad XX ; Fazlur Rahman: Neo Modernisme. http//ajielazmi. multiply.com /journal/item/).

[9]Greg Barton, “Gagasan Islam Liberal di Indonesia: Pemikiran Neo-Modernisme; Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid  [Jakarta: Paramadina-Pustaka Antara, 1999]), 6.

[10]Taufik Adnan Amal,. Metode dan Alternatif: Neo-modernisme Islam Fazlur Rahman (Bandung: Mizan, 1994), 6.

[11]Bambang Ruseno Utomo, catatan Slide perkuliaahan Islamologi kontemporer pascasarjana I3 Batu Malang, 26-30 April 2010. Topik  “Santri Neo-Modernis.”

[12]Ibid

[13]Malcolm Cone, “Neo-Modern Islam In Suharto’s Indonesia” New Zealand Journal Of Asian Studies 4, 2 (December, 2002), 54.

[14]Ruseno Utomo, catatan Slide perkuliaahan Islamologi…

[15]Terpinggirkannya politik Islam oleh orde baru mendorong para intelektual muslim memusatkan diri pada ranah pemikiran semata daripada aktvitas partai politik, Diawali oleh Harun Nasution dan kemudian dikembangkan oleh Cak Nur dan Gus Dur, Modernisme berpaham integralistik dalam melihat hubungan Islam dan Negara, Sedangkan Neo Modernisme beranggapam agama dan negara harus dipisahkan, Neo Modernisme merupakan sintesis dari pengetahuan tradisional “tradisi klasik” dan modernitas barat; “Rasinalitas, Ijtihad” (ibid,7).

[16]Ide Pembaruan ini kemudian dikenal sebagai Neo-Modernisme Islam Indonesia merupakan kombinasi dari dua unsur penting dalam peradaban Islam Indonesia, yaitu: Modernism dan Tradisonalisme. Kehadiran modernisme tidak mungkin dihindari. Tetapi, dengan mengakomodasikan ide-ide modernisme tersebut tidak berarti bahwa tradisionalisme harus dibuang. Neo-Modernisme jauh lebih siap untuk menerima ide-ide paling maju yang dikalangan modernis dan pada saat yang sama, juga bisa mengakomodasi pandangan kaum tradisionalis (salaf). Oleh karena itu, kebangkitan kaum Neo-Modernis dimaksudkan untuk menjembatani dua unsur peradaban Islam di Indonesia tersebut serta mengombinasikan kelebihan masing-masing. (Budhy Munawar Rahman. “Tipologi Wacana Keislaman Kaum Neo-Modernis: Kepentingan Politik dibalik Pemikiran Keislaman.” Dalam Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beragama. [Jakarta: Paramadina, 2001]), 4.

[17]Barton, “Gagasan Islam Liberal di Indonesia,… 8.

[18]Ibid

[19]M. Hilaly Basya, “Menelusuri Artikulasi Islam Moderat di Indonesia” Anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) dan Direktur Eksekutif Center for Moderate Muslim (CMM)Madina Online http://www.madina-sk.com  29 April, 2010.

[20]Jika konssisten dengan pengertian ini, beberapa keberatan pokok mungkin diajukan terhadap pencakupan keempat tokoh di atas ke dalam kelompok “neo-modernisme”.(Adnan Amal,. Metode dan Alternatif,… 34.

[21]Ahmad Amir Aziz,. Neo-Modernisme Islam di Indonesia. (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999).

[22]Barton, “Gagasan Islam Liberal di Indonesia,… 4.

[23]Ahamad Racham “pemikiran-neomodernisme-menuju-islam” Presentasi islamik dalam http:// rizemweb.  blogspot.com /2008/03/.html.

[24]Bambang Ruseno Utomo, Sekilas Mengenai Berbagai Agama dan Kepercayaan di Indonesia (Malang: Pusat Pembinaan Anggota Gereja, 1992), 62.

[25]Abd Moqsith Ghazali,Ijtihad, Upaya Menembus Kawasan Tak Terpikirkan” dalam artikel wawasan Islam;  http://gusdur.net/opini/.html.

[26]Ibid

[27]Muhammad Iqbal , “bahasa ijtihad bahasa neo modernism” dalam Http//Www.Muhammad Iqbal. Net/Rohani Islam. html

[28]Ruseno Utomo, catatan Slide perkuliaahan Islamologi…

[29]M.J. Admin, “Nurcholish Madjid ; Bapak Neo-Modernisasi Islam Indonesia” dalam http// mjinstitute // indeks.php// Islamic//37.profile.

[30]Subairi,Islam dan Pemberdayaan Civil Society; Refleksi Pemikiran Abdurrahman Wahid” dalam. Http//Www.Airinrachmidiany.Net/Perprektif/Rohani-Islam.

[31]Admin, “Nurcholish Madjid…

[32]Ibid.

[33](M. Amin Abdullah, Ulumul qur’an No.5, VII/1997:56-57).

[34]Ashar Ibrahim Alwee, Teras dan Terap Pluralisme (Insitut Pendidikan Nasional), 3.

[35]Syamsul Hidayat, “Islam dan Politik” dalam http//wawasan Islam/perspektif.html

[36]Amir Tajrid, “Menjadikan Pluralitas Agama Sebagai Media Integrasi Sosial; Ikhtiar Memperkokoh Persatuan Dan Kesatuan Bangsa” (The 9th Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)

[37]Alwi Shihab, Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama ( Bandung:MIZAN, 1998),41.

[38]A.Shobiri Muslim, “Pluralisme Agama Dalam Perspektif Negara dan Islam”, MADANIA,1 (September,1998),4.

[39]Gamal Al-Banna Doktrin Pluralisme dalam Islam (Jakarta: Penerbit Menara, 2006), 14.

[40] ibid

[41]Ibid, 15.

[42] Nurcholish Madjid, “Islam dan Substansiasi Paham Kebangsaan di Indonesia”, dalam F. Suleeman, dkk., (peny.) Bergumul dalam pengharapan; Buku Penghargaan untuk Pdt. Dr. Eka Darmaputera, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999), hlm. 490.

[43]M. Syafi’I Anwar, Islam Pluralisme dan Multikulturalisme di Era Globalisasi,” dalam Hery Sucipto (ed), Islam Madzbab Tengah: Persembahan 70 Tahun Tarmizi Taher (Jakarta: Penerbit Grafindo, 2007)

[44]Munawar Ahmad Anees, Dialog Muslim-Kristen dulu, sekarang,dan esok,  (Yogyakarta: QALAM, 2000),15.

[45]Mulana Wahiduddin Khan, Islam Anti Kekerasan, , (Jakarta: Pustaka Al – Kausar, 2000), 20.

[46]Moch. Yudi Sulaiman, Pembinaan Kesadaran Pluralisme Di Kalangan Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Anak Blitar (Kediri: STAIN, 2004), 58.

[47]Munawar Ahmad Anees, Dialog Muslim-Kristen,17.

[48]Ibid.

[49]Sejarah Perjumpaan Kristen di Indonesia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, )  576

[50]Asyumadi Azra, Reposisi Hubungan Agama dan Negara; Merajut Kerukunan Antarumat (Jakarta: Penerbit Kompas, 2002), 148.

[51]Sejarah Perjumpaan Kristen di Indonesia, 577.

[52]Berdasarkan informasi yang penulis dapat, paling tidak ada beberapa buku dari goplongan Islam yang menuliskan tentang masyarakat madani; Tim Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (ed), Membangun Masyararakat Madani: Menuju Indonesia Baru Milenium Ketiga. (Yogyakarta: Aditya Media, 1999) ; Akram Dhiyauddin Umari, Masyarakat Madani: Tinjauan Historis Kehidupan Zaman Nabi (Jakarta: Gema Insani Press, 1999) ; Hendro Prasetyo, Islam dan Civil Society – Pandangan Muslim Indonesia (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002); Viktor Silean, “Membangun Masyarakat Sipil, Menuju Indonesia Baru” (Makalah pada pertemuan Forum Komunikasi Kristiani Jakarta/FKKJ, 21 Feb 2001.; Eggi Sudjana, “Masyarakat Sipil dalam Perspektif Islam” (makalah pada pertemuan FKKJ, 21 Feb 2001.

[53]Nurcholish Madjid, “Konsep Neo Modernis Islam Indonesia” www.

[54]Widi Artanto, Menjadi Gereja Yang Misioner dalam Konteks Indonesia, (Jogyakarta: Kanisius, 1997), 113.

[55]Eka Darmaputera, “Fungsi Sosial-Politik (Jabatan) gerejawi”, dalam Penuntun, Vol 1, No. 3, April-Juni, 1995, Hlm. 287. Pada bagian ini, Eka menjelaskan tanggung jawab politik Gereja. Bagi Eka, Gereja (institusi) tidak boleh berpolitik praktis, tetapi Gereja mempunyai tanggung jawab di bidang politik, bahkan seorang Pendeta sebaiknya tidak usah ikut dalam politik praktis, demikian kata Eka.

[56]Sinaga, M.L. Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2001), 260-273.

[57]Eka Darmaputera, Iman dan Tantangan Zaman, (Jakarta: BPK-Gunung Mulia, 2003),71-76.

[58]Millard J. Erickson, Theologi Kristen, Vol 3 (Malang: Gandum Mas, 2004), 323.

[59]Anthony Hoekema, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (Surabaya: Momentum, 2003), 1.

[60]Bambang Ruseno Utomo, Gereja di tengah Berbagai Aliran Lain (Malang:IPTB, 2005), 40.

[61]William W.Menzies & Stanley Horton, Doktrin Alkitab, (Malang: Gandum Mas, 1998), 84.

[62]Hoekema, Manusia; Ciptaan , 17-18.

[63]Ibid, 9.

[64]Ibid, 14.

[65]Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1992), 236.

[66]William Dyrness, Tema-tema Dalam Teologi Perjanjian Lama, (Malang: Gandum Mas, 2004), 69.

[67]Hoekema, Manusia, Ciptaan, 7.

[68]Pluralitas yang dimaksud sebagai sinonim untuk ekumenisme, yakni upaya untuk mempromosikan suatu tingkat kesatuan, kerja sama, dan pemahaman yang lebih baik antar agama-agama atau berbagai denominasi dalam satu agama. Dan sebagai sinonim untuk toleransi agama, yang merupakan prasyarat untuk ko-eksistensi harmonis antara berbagai pemeluk agama ataupun denominasi yang berbeda-beda. (Sumber [http://id.wikipedia.org/wiki/Pluralisme_agama#cite_note-4)

[69]Karena pengalamannya melayani sebagai misionaris di India selama hampir 40 tahun, rasanya cukup tepat bagi Newbigin untuk memaparkan sekelumit masalah perjumpaan iman Kristen ketika berhadapan dengan masyarakat pluralis dalam konteks pelayanannya di sana. (Leslie Newbigin, The Gospel in a Pluralist Society [Grand Rapids: Eerdmans, 1989]), 1.

[70]Konsep kesatuan transenden agama (transcendent unity of religion)  lebih kepada protes terhadap arus globalisasi. Misalnya; Raymond Plant mengemukakan bahwa: pluralisme merupakan diskusi berkenaan dengan konteks globalisasi etika sosial dan politik. Diskusi ini dibagi dalam tiga konteks yang berbeda, yakni yang pertama berkenaan dengan konsekuensi moral dan politik dan kemajemukan agama dalam masyarakat modern. Kedua, berkenaan dengan tinjauan filosofis mengenai poin pertama; ketiga berkenaan dengan hakekat politik dalam masyarakat barat.; kedua Peter Berger merumuskan pluralisasi sebagai proses yang dengannya jumlah pilihan di dalam suasana pribadi masyarakat modern secara cepat berlipat ganda pada semua tahap, khususnya pada tingkat pandangan dunia, iman, dan ideology termasuk agama. (dikutip dari Diktat Kuliah STT Philadelphia. (Wisma Pandia, Theologia Pluralisme Agama [Modul Kuliah STTI Philadelphia]), 20-24.

[71]Pendekatan yang dipakai oleh aliran theologi global (global theology) terhadap agama-agama lebih bersifat sosiologis, kultural dan ideologis. Bersifat sosiologis dan kultural karena agama-agama yang ada di dunia ini harus disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat modern yang plural. Bersifat Ideologis, karena theologia global telah menjadi bagian dari program gerakan globalisasi, yang jelas-jelas mengadopsi dan menerapkan ideologi Barat. Wacana ini di deklarasikan oleh;  William Christian, dalam bukunya, Opposition of Religious Doctrines (1972). Truth and Dialogue in World Religions: Conflicting Truth-Claim (1974) penyunting John Hick. Raimundo Panikkar, dalam bukunya, The Intrareligious Dialogue (1978) dan, Jhon Hick dalam buknya Philosophy of Religion, dan bukunya,  Problems of Religious Pluralism (1985) serta buku yang berjudul, Interpretation of Religion (Gifford Lecture, 1986-87).  Wilfred Smith, dalam bukunya, Towards World Teology. (Hamid Fahmy, “Merespon Globalisasi Dengan Pluralisme Agama” Artikel Lepas Wawasan Islamic dalam, [http://www.insistnet.com]).

[72]Christian Sulistio, “Evaluasi Terhadap Teologi Pluralisme Agama Stanley Samartha” (Jurnal Theologi dan Pelayanan SAAT; VERITAS 10/2 [Oktober 2009]), 239-257.  (an interpretative theory about how one should handle the many competing truth-claims made by the various religions, kutipan dari buku Daniel B. Clendenin, Many Gods, Many Lords [Grand Rapids: Baker, 1995] 12) dan buku (D. A. Carson The Gagging of God [Leicester: Apollos,1996] 13-22).

[73]Ruseno Utomo, Gereja ditengah, 30.

[74]Budhy Munawar-Rachman, “Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama,” artikel interaktif dalam  www. media.isnet.org/islam/indeks.html

[75]C.S.Song,  Sebutkanlah Nama-Nama Kami; Teologi cerita dari perspektif Asia (Jakarta: BPK gunung Mulia, 2001), 185.

[76]Ibid, 186.

[77]Artanto, Menjadi Gereja,  113-115.

[78]Schumann, 122-123.

[79]Victor I. Tanja,  4-6.

[80]Paul F. Knitter, 245.

[81]Lesslie Newbigin, Injil dalam Masyaraiat Majemuk (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006),193.

[82]Bambang Ruseno Utomo, Hidup Bersama di Bumi Pancasila; Sebuah tinjauan hubungan Islam dan Kristen di Indonesia (Malang: Pusat Studi Agama dan Kebudayaan, 1993), 277.

[83]Abraham Kuyper, Iman Kristen dan Problema Sosial (Surabaya: Momentum, 2004),28.

 
 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: