RSS

TINJAUAN THEOLOGIS TENTANG GEREJA YANG MISSONER

24 Jun

TINJAUAN THEOLOGIS TENTANG GEREJA YANG MISSONER

Oleh: Ev. Venny E.H Sariowan, M.Div


 

PENDAHULUAN

Secara umum, pengertian misi merupakan usaha untuk menghasilkan terobosan  terhadap batas-batas antara iman kepada Yesus Kristus dan ketiadaannya.[1] Gereja yang bermisi hadir  tidak pada “ruang hampa”, tetapi hadir pada suatu realitas hidup dan dalam konteks masyarakat yang majemuk. Karena itu, sebutan “Gereja Misioner” harus memperhitungkan realitas hidup dan konteks masyarakat dimana kita tinggal dan berada.

Dalam hal ini kita tinggal di Negara Indonesia yang majemuk yang memiliki dua wajah yakni pertama, masyarakat beragama dan berkepercayaan yang plural yang memiliki idiologi yang fanatik dan kedua, sebagian masyarakatnya masih miskin dan tidak menempu pendidikan yang tinggi “bodoh”.

Gereja Misioner harus dipahami sebagai suatu usaha orang Kristen, gereja-gereja dan yayasan Kristen yang berbeda-beda untuk mengadakan perubahan dalam segala aspek kehidupan dan terutama misi membawa berita keselamatan melalui Yesus Kristus “Kerajaan Allah”. Bahkan dalam dinamika baru Gereja Misioner telah lebih meluas dalam konsep alam semesta, di mana misi telah meliputi seluruh dunia, seluruh umat manusia, seluruh alam semesta secara holistik dan universal. Dengan demikian, pengertian misi dalam konteks ini harus dilihat dalam pengertian universal.

Jadi sangat salah kalau pengertian misi hanya dilihat dari satu sudut pandang semata, karena betapa sering kita mendengar pengertian tentang misi yang hanya menunjuk kepada Amanat Agung, “Pergilah ke seluruh dunia . . .” sebagai dasar kegiatan misionari.  Berhubung bagian itu terlalu ditekankan di luar bagian-bagian Alkitab lainnya, timbul kesan bahwa perintah terakhir Yesus kepada murid-murid-Nya itu hanyalah merupakan gagasan yang mendadak, “Ah, sebelum Aku pergi, lebih baik Kukatakan kepada mereka apa yang harus dilakukan sekarang”.

Walaupun itu mungkin terlalu dilebih-lebihkan, nampaknya kita mempunyai kesan yang keliru tentang Misi Allah secara global untuk dunia. Oleh karena itu, kita harus memahami secara luas dan mendalam mengenai konsep Theologis dan Misiologis yang dijumpai dalam pengajaran Alkitab. Misalnya, fungsi-fungsi dasar dari pemberitaan Kristen, dialog, kesaksian, pelayanan, ibadah, pengajaran dan pemuridan.  Dalam kaitan dengan Gereja Misioner tersebut, maka muncullah pertanyaan-pertanyaan seperti misalnya, bagaiamana transisi dari satu konteks budaya ke dalam konteks budaya yang lain yang mempengaruhi bentuk dan interaksi antara fungsi-fungsi dinamis ini, secara khusus dihubungkan dengan pluralitas budaya dan keagamaan yang merupakan bagian dari konteks global misi Kristen.[2] Karena itu, menurut penulis, pengertian  tentang misi sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita memahami konsep tentang Allah dan menafsirkan Firman Allah dengan tepat dan benar.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, bagaimana kita memahami Gereja Misioner secara theologis dan misiologis, secara khusus dalam pemikiran dan tindakan berdasarkan konteks lokal? Apakah Gereja Misioner konsisten atau tidak? Berdasarkan pertanyaan ini, maka penulis akan mencoba menguraikan secara jelas pada bagian berikutnya.

 

TINJAUAN GEREJA MISIONER SECARA THEOLOGIS

  1. A.    Presuposisi Dasar Theologis Dalam Gereja Misioner

Presuposisi Gereja Misioner dapat ditinjau dari tiga sudut pandang secara theologis, yaitu: pertama, hubungan antara iman dan kebudayaan, hubungan antara antropologi dan sosiologi dan hubungan antara Kristologi dan Soteriologi.

1.      Hubungan antara iman dan kebudayaan dalam Gereja Misioner

Artinya,  secara tegas, harus dikatakan bahwa iman dan kebudayaan adalah dua hal yang harus dibedakan, karena orang-orang yang berbeda budaya bisa jadi memiliki iman yang sama, begitu pula orang-orang yang berasal dari satu budaya dapat memahami dan menganut iman yang berbeda. Maka sangat ironis kalau ada yang

GLOBAL

GEREJA YANG MISSIONER

mengatakan bahwa iman dan kebudayaan adalah sama, karena dengan demikian pertobatan kepada Yesus dapat ditafsirkan sebagai pertobatan kepada satu macam kebudayaan sementara merelatifkan budaya akan jatuh kepada pemahaman yang pluralistis yang kompromi kepada kebenaran yang lain dan menghiraukan kebenaran mutlak hanya di dalam Kristus.[3]  Gereja Misioner bukan menghilangkan budaya tertentu menjadi budaya Kristen, tatapi mengadakan perubahan pada tingkat sosial, mentransformasi hal yang kurang dalam kebudayaan serta meningkatkan ekonomi, pendidikan dan meningkatkan status sosial sesuai amanat Kristus. Jadi Gereja Misioner memahami bahwa iman tetap iman dan kebudayaan adalah merupakan tujuan utama untuk mengadakan transformasi bukan dalam pengertian “mengimankan” budaya tetapi lebih kepada pembebasan.

Hubungan iman dengan kebudayaan dalam konteks Gereja Misioner harus dilihat dalam tiga aspek, yaitu: pertama, dalam situasi Gereja Misioner inilah gereja dapat harus memberikan jawaban yang jelas tentang pertanyaan, “apakah dalam budaya itu bisa percaya tentang perbuatan Allah di dalam Kristus?” hal ini akan berbenturan dengan banyak persoalan di dalam kebudayaan itu sendiri.  Karena melepaskan kepercayaan dalam budaya itu tidak gampang. Kedua, dalam situasi Gereja Misioner gereja harus memberikan jawaban terhadap pertanyaan tentang apakah dalam budaya itu percaya akan universalitas Injil? Memang mudah untuk sekedar berbicara mengenai kebenaran  bahwa Kristus adalah Tuhan atas seluruh umat manusia  dan bahwa Kristus telah mati bagi semua orang. Tetapi memaksakan hal ini dalam nilai-nilai budaya dan peradaban akan sangat sulit, karena akan merubah banyak hal dalam budaya itu sendiri. Ketiga, dalam situasi Gereja Misioner inilah gereja harus memberikan jawaban yang jelas apakah dalam budaya itu percaya  bahwa Firman Tuhan tidak terbatas.[4]

2.       Hubungan antara Antropologi dan Sosiologi Dengan Gereja Misioner

Dewasa ini masalah sosial menggerakkan pemikiran orang banyak. Para pemimpin Negara, sarjana ekonomi, penasehat sosial, ahli pendidikan, dan semacam itu, dimana-mana selalu menghadapi masalah tersebut. Dalam pelaksanaanya mereka selalu sampai pada latar belakang kebudayaan, entah sebagai penghambat, entah sebagai unsur yang harus diintegarsikan agar hasil rencana-rencana tersebut terjamin. Dalam setiap soal daya, masalah sosial menampakan diri sebagai faktor yang tidak dapat dielakkan, yang mau tak mau harus diperhatikan agar usaha-usaha Gereja Misioner dapat terealisasi. Dari dalam ilmu sosiologi orang menggali motif dan perangsang untuk menjunjung perkembangan masyarakat.

Pertanyaan yang sering diajukan kepada banyak orang yang mengumuli antropologi dan sosiologi dalam konteks Gereja Misioner. Apakah yang menjadi hubungan antara antropologi dan sosiologi berkaian dengan misi. Misi yang benar harus didasarkan atas kebenaran Alkitab, oleh karena itu misi yang benar harus mengetahui antropologi.[5]  Karena pada kenyataannya ialah bahwa setiap Gereja Misioner berhubungan dengan manusia, dengan demikian pasti menyentuh antropolgi. Disini antropologi dan sosiologi berhubungan erat dengan manusia.

Berdasarkan dari kebenaran tersebut di atas ini, dapatlah dikatakan bahwa misi berhubungan dengan manusia, oleh karena itu perlu memperhatikan antropologi dan sosiologi secara serius. Alasan utama untuk kebenaran ini ialah karena antropoli berhubungan erat dengan manusia dan berbicara tentang manusia, adalah ilmu tentang manusia, asal usul dan perkembangannya, cara hidup total dan adat istiadatnya. Alasan yang sejalan ini bahwa dengan mempelajari antropologi, Gereja Misioner dapat menemukan pendekatan yang manusiawi untuk mendekati setiap manusia dalam lingkup sosialnya.

Di dalam pemahaman yang menyeluruh tentang antropologi dan sosiologi Gereja Misioner melihat empat dimensi, pertama, perjuangan demi kadilan ekonomi dalam melawan peghisapan oleh manusia atas sesamanya. Kedua, perjuangan demi martabat manusia dalam melawan penindasan politik terhadap manusia. Ketiga, perjuangan demi solidaritas dalam melawan keterasingan manusia dari sesamanya. Keempat, perjuangan pengharapan dalam melawan keputusasaan dalam kehidupan pribadi setiap insan manusia yang tertindas.

  1. 3.       Hubungan antara Kristologi dan Soteriologi Dengan Gereja Misioner

Secara tidak langsung, kita harus menyadari perbedaan yang ada di dalam kekristenan itu sendiri. Berdasarkan fakta tentang kasih dan kebaikan Tuhan, di antara gereja-gereja dan denominasi bertanya, “bagaiamana mungkin bahwa Allah tega untuk menghukum begitu banyak manusia ke dalam  hukuman yang kekal?” berdasarkan fakta kejatuhan manusia dalam dosa dan kerusakan moral manusia, maka pertanyaan lain muncul, “bagaimana mungkin manusia dapat diselamatkan?” Hal ini hanya bisa disimpulkan bahwa teladan Yesus Kristus yang memperhatikan dan membebaskan orang-orang yang miskin, tertindas, penyakit tubuh dan penyakit sosial lainnya teristimewa karya Yesus di atas kayu salib mengatasi dan melampaui segala pertanyaan seoteriologis.[6] Kristologi dan Soteriologi merupakan salah satu point penting secara theologis dalam memahami Gereja Misioner yang sesungguhnya. Bosch menilai bahwa  pemahaman Perjanjian Baru dan gereja mula-mula tentang keselamatan adalah holistik dan menyeluruh.[7] Karena bagaimanapun juga Gereja Misioner merupakan misi Allah (missio dei) dan misi Allah mengarah kepada perubahan dan amanat Yesus Kristus dan keselamatan di dalam-Nya.  Kristologi mengajarkan kepada kita memahami siapakah Yesus Kristus itu? Apa yang sudah dilakukannya? Apa yang sudah diajarkannya? Sedangkan Soteriologi mengajarkan kepada kita mengenai keselamatan hanya di dalam Kristus.

Norman F. Thomas mengatakan bahwa keselamatan dipahami dalam empat dimensi yaitu, dalam perjuangan demi keadilan ekonomi, martabat manusia, solidaritas dan pengharapan dan hal ini hanya sebuah proses baik dalam komunitas maupun dalam kehidupan pribadi.[8]  Soteriologi dalam konteks Gereja Misioner memahami tujuh aspek, yaitu, keselamatan yang terpadu, Allah – Dunia – Gereja, Keselamatan di dunia sekuler, keselamatan kekal bukan yang duniawi, keselamatan – suatu spiritualitas pembebasan, keselamatan sebagai humanism dan keselamatan – mencari keadilan yang sejati.[9]

  1. B.     Theologi “Gereja Misioner”

Melihat kembali apa yang telah penulis jelaskan di atas mengenai presouposisi dasar dalam theology Gereja Misioner, maka untuk mempertegas konsep theologi Gereja Misioner, penulis akan  menguraikan dalam bagian ini, dalam pokok pikiran tentang theologi Gereja Misioner Theologi of global mission.

  1. 1.      Gereja Misioner adalah Misi Allah (Missio Dei)

Gereja Misioner adalah rancangan Allah dalam pengutusan-Nya (missio dei) yang kekal untuk membawa transformasi dan pembebasan kepada manusia dan segenap ciptaan-Nya untuk menghadirkan kerajaan Allah yang kekal. Definsi ini mengemukakan bahwa Gereja Misioner adalah rencana Allah yang Esa yang bertujuan membawa kedamaian dan ketentraman serta keselamatan bagi manusia dan segenap ciptaan-Nya.[10] Tujuan tertinggi misi Allah adalah “kerajaan Allah” yang membawa kemuliaan bagi nama-Nya.

Gereja Misioner yang merupakan misi Allah merupakan inti dari rencana-Nya, sebagai bagian dari penyataan diri dan karya-Nya yang utuh kepada dan melalui umat-Nya (mission eccleiae) dan Gereja Misioner memiliki motif dan tujuan primer, yaitu membawa rahmat shalom (mission gratia), sehingga Gereja Misioner beroparasi dengan dinamika yang holistic dan mewujudkan shalom Allah dalam segalah aspek dan bidang kehidupan.[11] Gereja Misioner juga adalah bagian dari mandat budaya, yang diberikan Allah kepada umat-Nya. Jadi Allah mengasihi umat-Nya di dasarkan dari kemahakuasaan-Nya dan tindakan-Nya yang bebas.

2.      Kerangka Thologia Gereja Misioner

Theologi Gereja Misioner dapat disebut sebagai dasar dan prinsip Alkitabiah dalam menentukan dari mana iman Kristen itu berpijak baik dalah hal motifasi, berita, metode, strategy dan tujuan dari misi Kristen untuk dunia secara global yang berada dalam bentuk yang beraneka ragam sifatnya dan keadaannya.[12] Setidaknya ada tiga kerangka dasar theologia Gereja Misioner, yaitu, Firman Allah “Alkitab” (Word of God),  Dunia secara global (World globally) dan Gereja atau umat Allah (Chruch or God people).

  1. a.      Firman Allah (Word of God).

Theologia Gereja Misioner adalah cerminan dari Firman Allah, refleksi tentang Allah, pengertian tentang misi Allah, maksud dan rencana Allah dalam misi, manusia alat-Nya untuk misi dan beroperasi melalui umat Allah dalam dunia-Nya. Theologia Gereja Misioner berhubungan dengan semua tema-tema misi dalam theologia sistimatika. Theologi misi prihatin dengan hubungan fundamental antara Firman Allah dan Gereja Misioner dan memberi evaluasi, membentuk, dan menuntun segala aktifitas badan misi.

b.      Dunia secara global (World globally)

adalah tujuan dari theology Gereja Misioner, yang memfokuskan diri pada konteks dunia yang tercemar, dunia yang menderita dan dunia yang perlu ditransformasi. Theologia Gereja Misioner meneladani sifat dasar inkarnasi-Nya dalam pelayanan Yesus yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu menurut konteksnya.[13] Dengan demikian konteks dunia atau obyek Gereja Misioner dapat ditelusuri, dengan menggunakan semua disiplin ilmu-ilmu sosial lainnya seperti: sosiologi, anthropologi, economi, urbanisasi, ilmu agama-agama, politik, hubungan gereja dan negara, gereja dan agama, dan ilmu jiwa. Disiplin ilmu ini digunakan untuk menganalisa dan  mengerti konteks yang spesifik dimana misi Allah dapat mengambil bagian sebagai refleksi theologia Gereja Misioner.[14] Analisa konteks ini memanggil umat pilihan-Nya untuk mendengar jeritan, melihat wajah dan bentuk masyarakat, mengerti cerita, dan respon terhadap kebutuhan dan pengharapan dari orang-orang dalam konteks dimana saja orang itu berada. Bagian dari analisa kontekstual jaman ini mencakup cara gereja dalam misinya sudah berhadapan dengan konteks sepanjang sejarah. Sifat-sifat, tindakan-tindakan, dan peristiwa-peristiwa dari misi gereja yang terjadi pada konteks tertentu yang mendahului refleksi khusus akan mewarnai cara-cara dalam presentasi masa misi kini dan esok. Para ahli yang berdialog dengan sejarah theologi misi secara global prihatin dengan dampak aktifitas  misi dalam konteksnya.

c.       Gereja atau umat Allah (Chruch or God people).

Refleksi dasar dari gereja untuk tindakan misi dapat ditemukan dalam banyak tulisan-tulisan, buku, journal, yang ada hubungannya dengan misi. Namun refleksi misi pada tulisan-tulisan tidak dapat menggantikan tindakan nyata dari misi secara global yang nyata. Gereja harus memiliki sumbangsi penting dari perubahan dunia secara global. Gereja harus memiliki sifat praksis dan berpartisipasi dengan sukarela dalam misi-Nya. Theologia misi harus memberi informasi yang alkitabiah dan aksi misi secara global yang tepat dan kontekstual. Aksi misi bukanlah mentrasformasikan refleksi diri, walaupun memiliki ide-ide yang baik, itu mungkin tidak relevan, tidak berguna, yang kadang-kadang merusak dan tidak produktif.[15] Sebab itu aksi misi harus berdasarkan buah theologi dan selalu terjadi pada suatu konteks berlaku atau sesuai dengan kebutuhan sekarang ini, yaitu keadilan sosial, melepaskan dari kemisikinan dan terus mengadakan transformasi yang sesungguhnya secara utuh dan konsukuen.

3.        Paradigma  dalam Theologi Gereja Misioner

Paradigma theologi Gereja Misioner menunjuk kepada kebenaran bahwa “misi” berada dan berasal dari hati Allah, yang dilandaskan pada rencana-Nya untuk menyelamatkan dan menghadirkan ketentraman, kedamaian bagi manusia serta ciptaan-Nya. Karena itu Gereja Misioner adalah misi Allah melalui Yesus Kristus yang diberikan kepada umat-Nya untuk bertindak, menolong sesama dan menyatakan kasih-Nya kepada dunia secara utuh.

Ada dua hal yang sangat penting berkaitan dengan prinsip dari Gereja Misioner. Yaitu:

a.      Allah – Dunia – Gereja.

Slogan dari paham ini adalah, “dimana ada pembebasan yang membawa kepada humanisasi yang benar sedang berlangsung menuju kepada misi Allah yang sesunggunya… dengan demikian mission dei  telah mencapai tujuannya.”

Norman F.Thomas mengutip Hoekendijk,menjelaskan bahwa dunia adalah cakrawala misi. Gereja tidak melaksanakan misi, karena gereja adalah misi itu sendiri. Ia menjadi gereja hanya sejauh ia membiarkan diri dipergunakan oleh Allah untuk oikumene, yang dipahami sebagai seluruh dunia yang didiami.[16] Pemikiran mengenai Allah–dunia–Gereja, dimengerti sebagai Missio Dei (Misi Allah). Gereja Misioner adalah membangun “Kerajaan Allah.” Gereja Misioner tidak ada hubungan lagi dengan Soteriologi (Keselamatan) dalam pengertian yang sesungguhnya dan Eklesiologi (Gereja) tapi misi dihubungkan dengan Trinitarian understanding of God  (pemahaman tentang Trinitas Tuhan). Artinya adalah pengertian teologi tentang Misi, diarahkan pada pengertian bahwa Gereja Misioner merupakan bagian dari esensi Allah. Sehingga Allah yang membawa misi bukan gereja.[17]

Yang menjadi pertanyaan siapa sebenarnya yang memiliki kuasa untuk mengutus? Menurut Bosch, dalam makalah pada Konferensi Brandenburg tahun 1932, Karl Barth menjadi salah satu teolog pertama yang mengartikulasikan misi sebagai suatu aktivitas Allah sendiri. Pemikirannya telah mempe-ngaruhi Konferensi IMC di Willingen, 1952 dengan konsep Missio Dei. Misi di sini dipahami berasal dari Allah sendiri. Menurut Barth konsep misi harus diletakkan da-lam konteks Tritunggal, maksudnya Allah Bapa mengutus Anak-Nya, Allah Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus, akhirnya diperluas dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus mengutus gereja ke dalam dunia. Dalam Konferensi itu, menegaskan tentang misi sebagai partisipasi di dalam pengutusan oleh Allah. Inisiatif misi datang dari Allah sendiri.[18]

Setelah Willingen, Missio Dei mengalami modifikasi yang maksudnya bahwa keprihatinan Allah ditujukan kepada dunia, maka seluruh dunia pun seharusnya menjadi cakupan Missio Dei. Misi adalah tindakan Allah yang berpaling kepada dunia yang dihubungkan dengan penciptaan, pemeliharaan, penebusan dan penggenapan. Misi berlangsung dalam sejarah manusia yang biasa, bukan secara eksklusif di dalam dan melalui gereja. Misi Allah lebih besar dari misi gereja. Missio Dei adalah kegiatan Allah, yang merangkul baik gereja maupun dunia, dan di dalamnya gereja memperoleh hak istimewa untuk berperan serta.[19]

Kita melihat bahwa misi adalah inisiatif Allah. Allahlah yang berprakarsa dalam melakukan misi bukan gereja. Konsep Misio Dei Karl Barth bahwa Allah Tritunggal mengutus gereja telah mengalami modifikasi ke arah bahwa Allah dalam pengutusanNya melibatkan dunia dan gereja sekalipun hak istimewa masih ada pada gereja dimana peran gereja tetap menjadi satu pilar yang penting dalam tugas dan pelayanan misi Allah kepada dunia secara global yang bukan hanya dalam topik humanisasi, ekonomi, politik dll, tetapi juga mengenai Amanat Agung Yesus Kristus untuk menyelamatkan dunia yang terhilang.

b.      Makna “Keselamatan” dalam Gereja Misioner.

Dalam pemahaman Gereja Misioner secara theologis telah melahirkan pengertian yang berbeda tentang misi sebagai usaha untuk membawa orang mengenal dan percaya Yesus Kristus sehingga mengantarkan mereka kepada keselamatan. Misi dalam konsep Gereja Misioner adalah mengembangkan kerajaan Allah, dimana kerajaan Allah sangat luas dan Gereja harus bekerja sama dengan dunia untuk mencapai tujuan ini.[20] Keselamatan Gereja Misioner merupakan tugas keluar dari gereja untuk mengatasi masalah sosial politik dan ekonomi rakyat yang mendertia.[21] McGavran menjelaskan pengertian ini dengan memberikan pertanyaan, “Apakah keterpisahan kekal dari Allah lebih mengerikan daripada tidur dalam keadaan lapar? Baginya, ini merupakan inti dari perjuangan besar  yang berlangsung saat ini.[22]  Bosch menegaskan bahwa dalam Injil Lukas dijelaskan bahwa bahasa “keselamatan” mengacu kepada pengalaman-pengalaman yang sangat luas yang mentransformasikan kehidupan – mengalahkan kemiskinan, diskriminasi, penyakit, kerasukan setan, dosa dll. Paulus menekankan keselamatan sebagai pendamaian dengan Allah, tetapi juga sebagai sebuah proses yang mempunyai konsukuensi sosial dan politis.[23] Dalam konfrensi misi di Bangkok, 1972-1973, menegaskan bahwa keselamatan harus dipahami dalam empat dimensi yaitu, dalam perjuangan-perjuangan keadilan ekonomi, memperhatikan martabat manusia, memperhatikan solidaritas dan menekan pengharapan.[24] Dengan pengertian ini, maka terjadi penyempitan terhadap pengertian keselamatan. Pribadi dan pekerjaan Kristus semakin terpisahkan satu sama lain. Aktivitas-aktivitas Allah dipahami terpisah dari keprihatinan yang penuh belas kasihan demi kesejahteraan individu dan masyarakat. Jadi, apakah orang diselamatkan menjadi suatu proses individu yang berada dalam hubungan yang benar dengan Allah atau dengan gereja.

 

TINJAUAN GEREJA MISIONER SECARA MISIOLOGI

Ruang lingkup dalam Gereja Misioner secara misiologi memang cukup luas, diantaranya theology  misi, sejarah misi, ekklesiologi, apologia, metodik, sosiologi lintas budaya, etnologi, dsbnya. Dan untuk merealisasikannya dibutuhkan bidang ilmu: Homiletik, Hermeneutik, Komunikasi, Linguistik, Pengetahuan dalam bidang Politik dan Ekonomi. Misiologi memiliki hubungan yang erat dengan Theologi dan tidak boleh menjadi satu bagian yang terpisah dengan Theologi, karena misiologi tak lepas dengan pengetahuan theologi tentang Allah.

Aspek-Aspek Misiologi Dalam Gereja Misioner

Dari pengertiannya, Gereja Misioner adalah misi secara universal dan menyeluruh. Oleh karena itu, dalam misiologi, aspek-asepek Gereja Misioner begitu luas dan kompleks. Dengan demikian, pada bagian ini, penulis hanya membatasi bagian-bagian yang penting mengenai aspek-aspek Gereja Misioner. Yaitu: pertama, Gereja Misioner adalah misi memperjuangkan keadilan, Gereja Misioner adalah misi penginjilan, Gereja Misioner adalah misi pembebasan,  Gereja Misioner sebagai kesaksian antar agama.

1.      Gereja Misioner adalah Misi tentang Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah dan Gereja Misioner menjadi perhatian para theology, khususnya para pemikir misiologi, mereka telah mengadakan penelitian mengenai misi dari sudut pandang kerajaan Allah, bahwa masing-masing periode misi atau aliran misi yang telah muncul menyatakan suatu karakter yang bertentangan dengan konsep kerajaan Allah, pertentangan tersebut selalu dikaitkan dengan masalah misiologi. Ini terbukti bahwa topik Kerajaan Allah adalah topik yang sangat penting, apalagi kalau dilihat dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Yakub Tri Handoko dalam seminar tentang misiologi menjelaskan bahwa dalam Alkitab, secara khusus dalam Perjanjian Baru, menyatakan bahwa misi tidak bisa dilepas dari topik tentang kerajaan Allah.[25]

Pada waktu Yesus hadir secara jesmani, Ia mengerjakan misi-Nya, membangun Kerajaan Allah, menghadirkan shalom ditengah-tengah masyarakat yang terkucilkan, membebaskan mereka dari sakit penyakit dan membela ketidakadilan. Dan  Ketika Yesus hendak naik ke surga, Ia memberikan perintah yang terfokus pada penyelesaian misi Allah. Sebagai Bapa mengutus Yesus, sekarang Yesus mengutus para murid (Yoh 20:21). Ia memerintahkan para murid untuk pergi menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat 28:19-21). Ia menjanjikan Roh Kudus bagi orang percaya agar mereka mampu menjadi saksi (Kis 1:8). Sejarah perkembangan gereja di Kisah Rasul juga merupakan sejarah perkembangan misi. Intinya, misi Yesus tetap dilakukan oleh murid-murid-Nya. Dengan demikian Gereja Misioner tidak bisa dilepaskan dari topik tentang kerajaan Allah.[26]  Kerajaan Allah adalah kerajaan yang bersifat universal dan kekal. Allah Tritunggal adalah Raja yang menciptakan dan menopang semua ciptaan yang ada. Ia berkuasa sebagai Raja baik di bumi maupun di surga, karena ia memiliki semua kuasa di surga maupun di bumi (Mat.28:18, Kol. 1:14-16). Hal inipun memberikan pengertian mengenai misi Allah yang sifatnya universal dan tidak terbatas pada tempat dan waktu, di manapun dan kapanpun. Demikian juga dengan Gereja Misioner, adalah misi umat Kerajaan Allah, sebagai misi yang bersifat universal, misi yang mendunia.[27] Misi yang demikian adalah misi yang bersifat inklusif, yaitu misi yang tidak dibatasi oleh latar belakang agama, budaya, bangsa dan suku bangsa. Misi ini juga tidak dibatasi hanya pada konsep penginjilan yang membawa kepada pengenalan dan percaya kepada Yesus Kristus  sehingga diselamatan. Gereja Misioner adalah misi yang inklusif yang bersifat total, misi perkataan dan perbuatan, misi dalam arti penginjilan dan misi aksi sosial sebagai akibat dari hadirnya kerajaan Allah.

2.      Gereja Misioner adalah Misi tentang Penginjilan.

Penginjilan adalah membagi atau memberitakan kabar baik kepada orang lain. Kabar baik tersebut ialah Yesus Kristus sendiri yang diberitakan oleh orang Kristen bahwa Ia telah mati dan bangkit dari antara orang mati bagi penebusan manusia berdosa. Kematian dan kebangkitan Kristus menyatakan pemerintahan Yesus sebagai Tuhan dan Raja yang sekarang ini duduk disebelah kanan Allah Bapa.[28] Inilah tugas penginjilan yang pada intinya pertobatan, pertobatan kepada Kristus dan secara pribadi menjadi murid-Nya. Namun Norman F Thomas menambahkan bahwa, di dalam pertobatan ini juga termasuk pertobatan menuju komunitas Kristen dan pertobatan menuju gagasan-gagasan dan cita-cita Kristen.[29] Dalam Gereja Misioner pertobatan ini disebut pemulihan keutuhan yakni mengembalikan mereka yang terhilang ke tempatnya di dalam tata rumah tangga (ekonomi) Allah.[30] Injil adalah pesan Allah kepada seluruh ciptaan, tindakanNya untuk menyelaraskan seluruh ciptaan (Mrk. 16:15; Kol. 1:23). Oleh karena itu, setiap tindakan yang berusaha untuk menghasilkan harmoni ini adalah tindakan yang tercakup dalam arti istilah “penginjilan.”  Ini adalah cara-cara bagi Allah untuk berusaha mengembalikan keutuhan dalam kehidupan. Dalam hal inilah Gereja Misioner memahami bahwa penginjilan dan aksi sosial adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Walaupun kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan, tetapi penginjilan  dalam arti pemberitaan Injil merupakan tugas utama dalam Gereja Misioner.

3.      Gereja Misioner adalah Misi tentang Humanisasi.

Aspek Gereja Misioner adalah misi tentang humanisasi sudah banyak disinggung dalam topik-topik lain di atas, dimana humanisasi merupakan bagian dari misi yang dirancang dalam hubungannya dengan Misi Allah di dalam dunia ini. Kondisi sosial-politk, ekonomi dan kebudayaan masyarakat yang mengakibatkan mereka miskin, menderita, memperoleh ketidakadilan dan diskriminasi memicu perdebatan sengit dan memikirkan kembali arti misi yang sesungguhnya.

Dalam sidang raya WCC yang keempat di Uppsala tahun 1968, menghasilkan sikap dan arah yang baru mengenai misi. Sikap dan arah yang baru tersebut merupakan suatu konseptualisasi ulang mengenai misi. Hal berkaitan dengan perjuangan keadilan dan pembebasan yang harus diaktualisasi oleh gereja dan dunia. Konsep tentang misi adalah kepedulian sosial dan pembebasan sedangkan proklamasi Injil menjadi hal yang nomor dua dibicarakan. Konsep Gereja Misioner yang diprioritaskan adalah humanization.[31] J. Herbert Ken yang dikutip oleh Stefri Lumintang dalam bukunya “Theologi Abu-Abu” menjelaskan bahwa ada tiga faktor yang berperan besar bagi lahirnya dehumanization (dehumanisasi) yaitu: urbanisasi, industrialisasi, pengasingan.[32] Misi kemanusiaan merupakan bagian dari misi secara global yang harus dilakukan oleh gereja. Artinya kemanusiaan merupakan salah satu dari Gereja Misioner bahkan humanisasi merupakan bagian dari proklamasi Gereja Misioner, karena Gereja Misioner bersifat holistik yang menekankan keotentikan dan keutuhan yang merangkul baik penginjilan maupun aksi sosial yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lain.[33] Namun demikian, penginjilan bukanlah aksi sosial sedangkan aksi sosial bukan penginjilan. Namun keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam konteks Gereja Misioner.  John Stott menegaskan bahwa misi Alkitabiah mencakup penginjilan dan pelayanan sosial, tetapi penginjilan tetap menjadi inti misi.[34] Menurtnya, murid-murid diutus untuk melakukan misi sama seperti yang telah dilakukan Yesus, sedangkan dalam pelayanan Yesus, Ia tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memperhatikan masalah sosial yang ada di di dalam lingkungan dimana dia hidup.

4.      Gereja Misioner adalah Misi tentang Dialog Antar Agama.

Salah satu cara yang digunakan dalam Gereja Misioner adalah metode dialogis. Dialog berarti kemunikasi dua arah. Secara theologis dialog dapat dipahami berdasarkan missio dei, Allah mengutus Yesus Kristus untuk berkomunikasi dengan manusia (dialog) Allah menjadi manusia (inkarnasi) Cur Deus Homo, mengunkapkan bahwa Allah berkomunkasi dengan manusia. Lumintang dalam kutipannya dari Verkuyl menegaskan bahwa misi dalam dialog antar agama harus dipahami dalam tiga hal, yaitu: pertama, misi dialog harus pada sasaran yaitu untuk membangun saling pengertian yang baik dan benar. Kedua, beberapa sasaran dari misi dialog yang menghasilkan kerjasama berurusan dengan persoalan-persoalan yang paling mendesak, menghadapi masyarakat secara regional dan secara universal. Ketiga, dialog dilihat sebagai alat untuk mengkomunikasikan misi.[35] Keuntungan dari dialog antara lain: Pertama, dengan dialog orang Kristen telah menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan dan memahami pandangan orang lain. Hal ini bisa membangkitkan respek yang baik dari masyarakat yang majemuk. Kedua,  melalui dialog orang Kristen secara disadari telah “memaksa” orang lain berpikir secara serius tentang konsep yang mereka percayai. Proses ini diharapkan berujung pada kesadaran bahwa apa yang mereka percayai selama ini adalah salah. Ketiga, dialog juga memberi kesempatan bagi orang Kristen untuk memberitakan injil tanpa orang lain merasa dipaksa untuk mendengarkan.

Dalam konteks Indonesia, paradigma Gereja Misioner bergerak dinamis ke arah upaya-upaya dialogis dengan semua elemen masyarakat yang terlibat dalam masalah-masalah kemanusiaan. Paradigma Gereja Misioner mengandung elemen-elemen dasar yang bersentuhan dengan realitas konteks Indonesia sebagaimana yang disebutkan yakni: masyarakat plural beragama dan kemiskinan.[36]

5. Misiologi – Gereja Misioner Dan Kemajemukan

Misi Allah harus dilihat secara global atau secara universal dan misi Allah ini selalu hadir dalam sebuah konteks kemajemukan iman atau kepercayaan lain (pluralitas). Memang inilah kenyataannya, dunia dimana kita tinggal memiliki masyarakat yang majemuk dan beraneka ragam bentuknya, baik pada bidang sosial, ekonomi, politik dan agama. Pada saat ini perkembangan saman menunjukkan adanya  tiga wawasan dunia utama yang mendominasi dunia, yaitu: teisme (paham percaya Allah), ateisme (paham yang menolak Allah, atau tidak percaya adanya Allah) dan panteisme (paham yang percaya banyak Allah, atau semua adalah Allah) yang merupakan ciri kelompok gerakan zaman baru dan menjadi ciri spiritualitas yang laris di era postmodernism saat ini.[37]

Dalam wilayah teisme, harus diakui relasi yang paling dinamis adalah antara Kristen dan Islam. Dalam relasi dengat ateisme, banyak pihak tidak menyadari bahwa ateisme masih bertumbuh di negeri ini. Setidaknya, kecendrungan menuju ateisme selalu ada dan semakin subur akhir-akhir ini berbarengan dengan era kebebasan berpendapat yang semakin menonjol. Dalam dunia majemuk seperti di Indenesia ini, telah banyak ateisme-ateisme terselubung bukannya mati  melainkan sudah semkin bertambah dan bahkan semakin terbuka menyatakan eksistensinya, secara khusus karena pengaruh saintisme (paham yang percaya sains adalah segalanya). Sementara itu, zaman ini telah bergerak menuju postmodernisme dan meninggalkan modernism dengan segala tindakan dan kelakuannya. Sebagai sebuah filsafat, posmodernisme menolak konsep kebenaran mutlak dari agama apapun dan dalam beberpa versi,  yang radikal, bahkan telah menolak adanya kebenaran. Jika hal ini benar, maka kekristenan hanyalah sebuah versi kebenaran sekolompok orang tertentu. Dengan demikian, maka misi Kristen menjadi tidak relevan atau harus didefinisikan ulang secara radikal.

Di dalam pergulatan relasi antara Kekristenan dengan wawasan dunia yang berkembang disekitarnya inilah maka Gereja Misioner perlu perlu memikirkan bekal pemahaman yang cukup untuk berdiri bukan hanya sebagai saksi Kristus dalam hal menarik mereka pada kebenaran yang sesungguhnya, tetapi lebih kepada kepedulian dalam usaha meningkatkan taraf hidup sesama dalam segala bidang. Aksi sosial, membela ketidakadilan, pendidikan, hokum dan politik serta masalah ekonomi. Dalam hal inilah maka Gereja Misioner memegang prinsip cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Misiologi – Gereja Misioner Dan Amanat Agung

Di dalam sejarah Pekabaran Injil, misi itu dikaitkan dengan antara lain Amanat Agung (Matius 28: 19-20), yaitu perintah Yesus Kristus kepada para pengikutNya untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Memberitakan Injil adalah suatu tugas, suatu misi.[38] Demikian juga ditegaskan oleh Siwu dengan mengutip beberapa ayat Alkitab Matius : 28:19; Kisah Para Rasul 1: 8, mengatakan bahwa orang Kristen yang ditugaskan untuk memberitakan Injil, berarti me-lakukan misi.[39]

Memberitakan Injil adalah tugas yang diberikan oleh Yesus Kristus. Namun demikian, dalam perjalanan misi sepanjang abad orang telah mempersoalkan siapa yang mengutus dan siapa yang diutus. David Bosch seorang teolog Afrika Selatan, mempersoalkan tentang istilah misi sebagai ada orang atau orang-orang yang diutus oleh si pengutus dengan sebuah tugas. Si pengutus ini berarti punya “kuasa” untuk mengutus. Menu-rutnya, seharusnya dimengerti bahwa yang mengutus adalah Allah yang mempunyai kuasa yang pasti untuk menetapkan orang-orang yang diutus untuk melakukan kehendakNya. Namun dalam praktik di lapangan, kuasa untuk mengutus ada pada gereja atau pada suatu lembaga misi, atau bahkan pada seorang penguasa Kristen.[40]

Gereja Misioner berarti misi yang universal dalam segala bidang, menyeluruh tanpa dibatasi hanya pada amanat agung Yesus Kristus. Secara harafiah Global dapat berarti “univesal”, “dunia international”  dan “seluruh bidang dan seluruh umat manusia”. Dalam Gereja Misioner, kata ini dipakai dalam arti “seluruh dunia” yang didiami. Dalam perkembangan lanjut, Gereja Misioner telah dipahami sebagai misi Allah kepada dunia untuk membebaskan dan menyelamatkan. Bahkan dalam dinamika baru gerakan Gereja Misioner telah lebih meluas dalam konsep alam semesta, meliputi seluruh dunia, seluruh umat manusia, seluruh alam semesta secara holistik dan universal.

Gereja Misioner mencakup juga penginjilan sebagai salah satu dimensi yang esensial. Pengnjilan adalah pemberitaan tentang keselamatan yang ada dalam Kristus kepada semua manusia agar bertobat, meninggalkan hidup yang lama dan masuk dalam komunitas Kristus di bumi dalam kuasa Roh Kudus.[41] Dalam Dokumen Keesaan Gereja – PGI mencatat bahwa Pekabaran Injil adalah tugas gereja anggota ( Matius 28: 19-20; Markus 16: 15; Yohanes 1: 8). “Injil adalah berita kesukaan mengenai pertobatan dan pembaharuan yang tersedia bagi manusia (Mrk. 1:15; Mat. 28: 19-20; Kis. 1:8) serta kebebasan, keadilan, kebenaran, dan kese-jahteraan yang dikehendaki Tu-han untuk dunia (Luk. 4:18-21). Sebagai berita kesukaan, Injil adalah kekuatan Allah yang me-nyelamatkan manusia (Rm. 1:16).” [42]

Dalam konteks Indonesia, bagaimana Gereja melaksanakan misinya? Widi Artanto menggumuli persoalan ini yang tertuang dalam bukunya: Menjadi Gereja Misoner Dalam Konteks Indonesia, banyak berbicara tentang pentingnya Gereja meng-gumuli panggilan misionernya dalam konteks Indonesia yang harus mempertimbangan bagai-mana Gereja melaksanakan misi-Nya. Baginya, Gereja harus merekonstruksi misinya, agar misi benar-benar relevan. Lebih lanjut dikatakan bahwa paradigma misi yang relevan adalah paradigma misi secara global dan universal.[43]

Lebih lanjut kita melihat, konsep misi yang relevan dalam konteks Indonesia sebagaimana yang ditawarkan oleh Widi Artanto. Menurut Artanto, paradigma Gereja Misioner merupakan paradigma misi yang relevan dalam konteks Indonesia. Dengan mengutip pendapat Ngelow Zakaria, Artanto mengatakan bahwa misi gereja harus memperhitungkan pluralitas agama dan masalah sosial, ekonomi, politik di Indonesia. Oleh karena itu segala bentuk misi yang konfrontatif terhadap golongan agama dan tidak kritis terhadap kehidupan politik tidak mungkin dilanjutkan.[44]

Edmund Woga mengutip pendapat Walbert Buhlmann mengatakan bahwa Gereja Misioner harus lebih dimengerti secara kontekstual sebagai hidup dan karya Gereja di tempat di mana Gereja berada. Menurutnya, dengan cara ini, misi mendapatkan artinya yang sebenarnya sebagai aspek keterbukaan terhadap dunia.[45]  Gereja Misioner adalah Misi Allah juga misi Kerajaan Allah, yakni bersaksi dan melayani dengan rendah hati sebagai mitra Allah dan mitra sesamanya agar bersama-sama semua yang lain dapat mengalami dan dan berada di dalam anugerah dan kasih Allah. Itu berarti bahwa Gereja harus mengakui bahwa Allah dapat memakai orang lain yang “bukan Gereja” sebagai alat atau sarana untuk mewujudkan misi Kerajaan Allah, dan Gereja juga mau mendengarkan kesaksian serta menerima pelayanan orang-orang lain yang memberitakan Kerajaan Allah. Oleh karena itu Gereja terbuka serta mau bekerja sama dengan sesamanya yang dipakai Allah untuk mewujudkan Kerajaan-Nya di dunia ini.[46]

Pemahaman seperti ini bukan saja relevan dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, tetapi juga secara Alkitabiah didukung oleh berita-berita dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian baru tentang Allah melibatkan orang-orang atau bangsa lain dalam karya keselamat-Nya dan Kristus juga melayani semua orang dan melibatkan semua orang dalam rencana keselamatan-Nya.

KESIMPULAN

Menurut penulis, Gereja Misioner yang dirancang dalam konteks Think Global act local  tidak “konsisten” dan seharusnya wajah misiologi yang kontekstual bagi Indonesia harus terbuka terhadap agama-agama, terbuka kepada cerita-cerita rakyat, ungkapan mitologis agama-agama suku dan nila inilai leluhur yang terkandung di dalamnya, terbuka kepada masalah-masalah praktek agama suku dalam gereja-gereja suku, terbuka kepada dunia modern dengan segala masalahnya yang sangat kompleks dalam era industri dan komunikasi ini. Namun demikian dalam keterbukaan ini, inti dari misi yang sesungguhnya tetap harus menjadi perioritas, yaitu memproklamsikan Injil Yesus Kristus sesuai dengan Amanat Agung Mat 28:19-20.

Konteks bermisiologi di Indonesia menurut penulis harus meliputi refleksi biblika yang terfokus kepada kerajaaan Allah dengan kuasa Allah didalamnya dan pada keutuhan ciptaan. Selain itu kerja berhubungan dengan perkerjaan yang cocok dalam kerajaan Allah direfleksikan dan dipikirkan, siapa mitra kerja gereja, refleksi analisis sosial, releksi praktikal (life oriented)

Sedangkan tugas theologi misi menurut penulis adalah harus memikirkan dasar misi, menyelidiki hakekat misi sesuai dengan Alkitab, memberi tujuan dan inti misi, mempertanyakan motivasi untuk pelayanan lintas budaya, menjelaskan penerima pelayanan misi, menekankan pentingnya misi, mempertanyakan tujuan dan “closure” misi. Dengan demikian misi Alkitabiah adalah kegiatan Allah melalui Putra-Nya dan gereja-Nya lewat penginjilan, pengajaran dan diakonia. Misi dimulai secara lokal (di tempat di mana orang Kristen berada) dan mengalir ke suku-suku terabaikan supaya semua etnis tercapai dengan Injil sampai Kristus datang lagi. Misi berkaitan dengan Kerajaan Allah yang sudah mulai dan tetap harus dinantikan. Sedangkan aspek-aspek misi meliputi tindakan Allah yang universal untuk menyelamatkan (Yoh. 3:16),  terkait dengan sejarah kesalamatan (Ibr. 1:1-3), misi terlaksana oleh seluruh gereja Yesus Kristus (1Petr. 2:9), misi terjadi di dunia yang tersesat yang dikasihi Allah untuk diselamatkan (1Tim. 2:4), misi terdiri dari penginjilan, pengajaran dan diakonia (Mat. 4:23), misi mulai secara lokal (Kis 13:1-3), misi berarti pelayanan lintas budaya (Mrk. 16:15), misi berusaha mencapai semua kaum, suku dan bangsa (ethne) (Mat. 24:14; Wah 7), misi terkait Kerajaan Allah yang sudah mulai dan tetap akan dinantikan (Mat. 28:20).

 SOLI DEO GLORIA

[1] Norman E. Thomas, Teks-teks klasik tentang Misi dan Kekristenan Sedunia (Jakarta: Bpk Gunung Mulia, 1998) xiii

[2] ibid

[3] Edward Rommen,  Harold Netland, eds., Christianity and the Religious: A Biblical Theology of Word Religions (Pasadena: William Carey Library, 1995) 192-194.

[4] David R. B. Ham, Merencanakan Misi Lewat Gereja-geraja Asia (Malang: Gandum Mas, 1980) 18

[5] Imanuel Sukardi,  Diktat: Budaya dalam Kerangka Pikir Misiologi  (2008) 9-15

[6] Rommen Netland, eds., Christianity. 194-195.

[7] David J. Bosch, Transformasi Misi Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000) 600

[8] Thomas, Teks-teks klasik,  175

[9] Ibid 174-192

[10]Yakub Tomatala, Theologi Misi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003) 24

[11]Ibid, 25

[12]Gerald Anderson,  The Concise Dictionary of the Christian Mission

[13]Thomas, Teks-Teks Klasik,  199

[14]Makmur Halim, Diktat Theologia  Misi (Batu: Diktat, 2008) 7

[15]ibid

[16]Thomas, Teks-Teks Klasik,  178-179

[17]Jonge Ch, Menuju Keesaan Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996) 37

[18]Bosch, Transformasi, 597

[19]Ibid, 599

[20]Stefri Indra Lumintang,  Theologi Abu-Abu; Pluralisme Agama (Malang: Gandum Mas, 2004) 299

[21]Lesslie Newbigin,  Injil Dalam Masyarakat Majemuk (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993) 257

[22]F. Glasser, Donald A. McGavran, Contemporary Theologies of Mission (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1983) 237

[23]Bosch, Transformasi, 602-605

[24]Thomas, Teks-Teks Klasik, 177

[25]Yakub Tri Handoko, Misiologi; Bagian 2- Misi Dalam Alkitab (Surabaya: Diktat Seminar, 2005) 2

[26]Tomatala, Theologi  55

[27]Lumintang, Theologi, 501

[28]ibid

[29]Thomas, Teks-Teks, 227

[30]Ibid 226

[31]Lumintang, Theologi,  506

[32]Ibid,  [J. Herbert Kane, The Christian World Mission: Today and Tomorrow (Grand Rapids: Baker Book House, 1981) 157-158]

[33]Gereja Misioner mencakup penginjilan dan pelayanan sosial,  penginjilan sama pentingnya dengan pelayanan sosial.   A. Scott Moreau, Evangelical Dictionary of  World Missions,  637-638

[34]John R. W. Stott, Christian Mission in the Modern World  (London: Inter-Varsity Press, 1992) 15-34

[35]Lumintang, Theologi  286

[36]Widi Artanto, Menjadi Gereja Misioner (Yogyakarta:  Kanisius, 1997) 205

[37]Bambang Noorsena, Misi Kristen di tengah Pluralitas (Surabaya: Makalah Seminar,  2009) 1

[38]Th. Kobong,  Dalam Kemurahan Allah: Transformasi Budaya Sebagai Misi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1994) 220

[39]Richard Siwu, Misi Dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996).

[40]Bosch, Transformasi, 2

[41]Ibid, 16

[42]PGI,  Dokumen Keesaan Gereja,  (Jakarta: PGI, 2000) 34

[43]Artanto, Menjadi Gereja,  200

[44]Ibid, 204

[45]Edmund Woga, Misiologi (Yokyakarta: Kanisius, 2002) 18

[46]Artanto,  Menjadi Gereja, 207-208

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2011 in SERBA-SERBI

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: