RSS

PANGGILAN ALLAH KEPADA ABRAHAM SEBAGAI MODEL KETAATAN IMAN

25 Jun

PANGGILAN ALLAH KEPADA ABRAHAM SEBAGAI MODEL KETAATAN IMAN

“Berfirmanlah Tuhan kepada Abram, “Pergilah dari negerimu dan dari sanaksaudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkankepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi  berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan  mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”Kejadian 12:1-3

PANGGILAN KETAATAN IMAN

PANGGILAN KETAATAN IMAN

 

Panggilan Abram (kemudian dinamakan Abraham, lih. Kejadian 17:5) sebagaimana tercatat dalam Kej 12:1-3 mengawali babak baru dalam penyataan PL mengenai maksud Allah untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia. Allahbermaksud memiliki seseorang yang mengenal dan melayani-Nya dengan iman yang tulus. Dari orang ini akan tampil keluarga yang mengenal, mengajarkan, dan memelihara jalan-jalan Tuhan.
Kejadian 18:19]
Dari keluarga ini akan muncul sebuah bangsa pilihan yang akan hidup terpisah dari ketidaksalehan bangsa-bangsa lain serta melaksanakan kehendak Allah. Dari bangsa ini akan datang Yesus Kristus, Juruselamat dunia, keturunan wanita yang dijanjikan. “Kej 3:15 (Gal 3:8,16,18).

Beberapa prinsip penting dapat diambil dari panggilan Abraham;

1) Panggilan Abraham melibatkan pemisahan diri dari tanah airnya, bangsanya, dan  rumah tangganya (Kej   12:1) supaya menjadi seorang asing di bumi ini (Ibr 11:13). Di dalam Abraham, Allah sedang menegakkan prinsip  penting bahwa umat-Nya harus memisahkan diri dari segala yang menghalangi terwujudnya maksud-maksud Allah bagi hidup mereka.
2) Kepada Abraham Allah menjanjikan suatu negeri, bangsa yang besar melalui keturunannya, dan suatu berkat yang akan mempengaruhi semua bangsa di bumi ( Kej 12:2-3). PB dengan jelas mengajarkan bahwa unsur terakhir janji ini sedang digenapi melalui pemberitaan Injil Kristus secara misioner (Kis 3:25; Gal 3:8).

3) Lagi pula, panggilan Abraham bukan saja menyangkut negeri di bumi, tetapi juga di sorga. Visi Abraham kemudian meliputi suatu rumah akhir bukan lagi di bumi tetapi di sorga, dan sebuah kota yang direncanakan dan dibangun Allah sendiri. Abraham selanjutnya menginginkan dan mencari tanah air sorgawi itu di mana dia akan tinggal selama-lamanya dengan Allahnya dalam kebenaran, sukacita, dan damai sejahtera (Ibr 11:9-10 ,14-16; bd. Wahy 21:1-4; 22:1-5).  Hingga tiba saat itu ia merupakan pendatang dan perantau di bumi ini (Ibr11:9 ,13).

4) Panggilan Abraham tidak hanya terdiri atas berbagai janji, tetapi juga atas   berbagai kewajiban. Allah menuntut baik ketaatan maupun penyerahan pribadi kepada-Nya sebagai Tuhan agar dapat menerima apa yang dijanjikan. Ketaatan dan penyerahan terlibat: ( a) kepercayaan dalam Firman Allah, sekalipun realisasi janji-janji  tersebut kelihatan mustahil secara akal manusia ( Kej 15:1-6; Kej 18:10-14),  ( b) ketaatan kepada perintah Allah untuk meninggalkan tempat tinggalnya ( Kej 12:4; Ibr 11:8), dan  ( c) usaha yang sungguh-sungguh untuk menjalankan hidup yang benar ( Kej 17:1-2).

5) Janji dan berkat Allah kepada Abraham menjangkau bukan hanya keturunan  lahiriahnya saja (yaitu, orang-orang Yahudi yang percaya), namun juga semua  orang yang dengan iman yang benar ( Kej 12:3) menerima dan mengikut  Yesus Kristus, “keturunan” Abraham yang sejati (lih. Gal 3:14,16).
Semua yang memiliki iman seperti iman Abraham adalah “anak-anak Abraham” (Gal 3:7) dan diberkati bersama dengannya ( Gal 3:9). Mereka   menjadi keturunan Abraham, ahli waris sesuai dengan janji Allah (Gal 3:29),   termasuk menerima dengan iman “Roh yang telah dijanjikan” di dalam Kristus Yesus (Gal 3:14]

6) Karena Abraham memiliki iman kepada Allah yang dinyatakan dalam ketaatan,  maka dia disebut teladan utama orang yang memiliki iman sejati yang menyelamatkan (bd.Kej 15:6; Rom 4:1-5,16-24; Gal 3:6-9; Ibr 11:8-19; Yak 2:21-23; Kej 15:6]  Secara alkitabiah, semua pernyataan beriman kepada Yesus Kristus sebagai    Juruselamat yang tidak meliputi ketaatan kepada-Nya sebagai Tuhan bukanlah  iman yang dimiliki Abraham, jadi bukan iman sejati yang menyelamatkan (Yoh 3:36]. iman yang dimiliki Abraham, jadi bukan iman sejati yang menyelamatkan  Yoh 3:36.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Juni 2011 in RENUNGAN

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: