RSS

PENCIPTAAN ALLAH ATAS SEGALA SESUATU

25 Jun

ALLAH SANG PENCIPTA SEGALA SESUATU

TANGAN SANG PENCIPTA

Nas : Kej 1:1  Ayat: “Pada mulanya Allah TANGAN SANG PENCIPTAmenciptakan langit dan bumi.”

ALLAH SANG PENCIPTA.

1) Di dalam Alkitab Allah dinyatakan sebagai Oknum yang tak terbatas, kekal, ada  dengan sendirinya dan menjadi Awal segala sesuatu yang ada. Tidak pernah
Allah tidak ada. Sebagaimana ditegaskan oleh Musa, “Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama- lamanya Engkaulah Allah” (Mazm 90:2). Dengan kata  lain, Allah sudah ada secara kekal dan tidak terbatas sebelum menciptakan alam yang terbatas. Dia berada di atas, tidak bergantung pada dan mendahului  segala sesuatu yang tercipta di langit dan di bumi ( 1Tim 6:16]  bdk Kol 1:16).

2) Allah juga dinyatakan sebagai Oknum berkepribadian yang menciptakan Adam dan  Hawa “menurut … rupa kita” ( Kej 1:27; bdk. Kej 1:26]
Karena Adam dan Hawa diciptakan menurut rupa Allah, mereka dapat menanggapi  dan bersekutu dengan Allah di dalam kasih dan secara pribadi.

3) Allah juga dinyatakan sebagai Oknum moral yang menciptakan segala sesuatu  baik dan karena itu tanpa dosa. Setelah Allah selesai menciptakan dan  memperhatikan hasil karya-Nya, dilihat-Nya bahwa semuanya itu “sangat baik”  ( Kej 1:31). Karena Adam dan Hawa diciptakan menurut gambar dan rupa  Allah, mereka juga tanpa dosa ( Kej 1:26]
Dosa memasuki kehidupan manusia ketika Hawa dicobai oleh si ular, Iblis  ( Kej 3:1-24; bd. Rom 5:12; Wahy 12:9).

KEGIATAN PENCIPTAAN.

1) Allah menciptakan segala sesuatu di “langit dan di bumi” (Kej 1:1;  bd. Yes 40:28; 42:5; 45:18; Mr 13:19; Ef 3:9; Kol 1:16; Ibr 1:2; Wahy 10:6).  Kata “menciptakan” (Ibr. _bara_) dipakai khusus sebagai kegiatan yang hanya  dapat dilakukan oleh Allah. Ini berarti bahwa pada saat tertentu, Allah   mengadakan benda dan zat yang belum pernah ada sebelumnya  Kej 1:3]

2) Alkitab menggambarkan ciptaan sebagai tidak berbentuk, kosong, dan ditutupi  kegelapan (Kej 1:2). Ketika itu semesta alam dan bumi tidak memiliki  bentuk teratur seperti sekarang ini. Semuanya masih kosong, tanpa makhluk  hidup dan tidak ada terang. Setelah tahap permulaan ini, Allah menciptakan  terang untuk menghalaukan kegelapan ( Kej 1:3-5), menata semesta alam  ini (Kej 1:6-13) dan memenuhi bumi dengan makhluk-makhluk hidup   ( Kej 1:20-28).

3) Metode yang dipergunakan Allah ketika menciptakan ialah kuasa Firman-Nya.  Berkali-kali dinyatakan, “Berfirmanlah Allah …”( Kej 1:3,6,9,11,14,20,24,26).  Dengan kata lain, Allah bersabda hingga langit dan bumi ini menjadi ada;  sebelum sabda kreatif Allah diucapkan, semua itu tidak ada (bd. Mazm 33:6,9; 148:5; Yes 48:13;  Rom 4:17; Ibr 11:3).

4) Seluruh Trinitas, dan bukan hanya Bapa berperan dalam penciptaan.
( a) Putra sendiri adalah Firman yang berkuasa yang dengannya Allah     menciptakan segala sesuatu. Dalam prolog Injil Yohanes, Kristus dinyatakan sebagai Firman Allah yang kekal (Yoh 1:1). “Segala        sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah  jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh 1:3). Demikian juga,  Paulus menegaskan bahwa melalui Kristus “telah diciptakan segala sesuatu,     yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak  kelihatan …; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16).
Akhirnya, penulis surat Ibrani dengan tegas sekali menyatakan bahwa oleh   Anak-Nya Allah menciptakan alam semesta (Ibr 1:2).

( b) Demikian pula, Roh Kudus mempunyai peranan aktif dalam karyapenciptaan. Dia digambarkan sebagai “melayang-layang” di atasciptaan, memelihara dan mempersiapkannya bagi kegiatan penciptaan
Allah selanjutnya. Kata Ibrani untuk Roh (_ruah_) juga dapat  diterjemahkan sebagai “angin” dan “nafas.” Demikian, pemazmur  mengakui peranan Roh ketika menyatakan, “Oleh firman Tuhan langit           telah dijadikan, oleh nafas (_ruah_) dari mulut-Nya segala tentara-Nya”  ( Mazm 33:6). Roh Kudus juga terus terlibat dalam menopang  ciptaan (Ayub 33:4; Mazm 104:30).

MAKSUD DAN TUJUAN CIPTAAN.
Allah memiliki maksud-maksud tertentu untuk menciptakan dunia.

1) Allah menciptakan langit dan bumi sebagai ungkapan kemuliaan, kemegahan, dan  kuasa-Nya. Daud mengatakan, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mazm 19:2; bd.  Mazm 8:2). Dengan memandang seluruh alam tercipta ini—dari  cakrawala mahaluas dari semesta tercipta hingga keindahan dan tatanan alam — kita mau tidak mau kagum akan kebesaran Tuhan Allah, Pencipta kita.

2) Allah menciptakan langit dan bumi untuk menerima kembali kemuliaan dan hormat  yang layak diterima-Nya. Semua unsur alam—mis. matahari dan bulan, pohon-pohon  di hutan, hujan dan salju, sungai dan anak sungai, bukit dan gunung, hewan  dan burung—menyerukan pujian kepada Allah yang menciptakan mereka  ( Mazm 98:7-8; 148:1-10; Yes 55:12). Betapa Dia lebih menginginkan  dan menantikan kemuliaan dan pujian manusia!

3) Allah menciptakan bumi supaya menyediakan sebuah tempat di mana maksud dan  tujuan-Nya bagi umat manusia dapat digenapi.
( a) Allah menciptakan Adam dan Hawa menurut rupa-Nya sendiri supaya  manusia dapat mempunyai hubungan kasih pribadi secara abadi. Allah   menciptakan manusia sebagai makhluk tiga-unsur (tubuh, jiwa, roh), memiliki pikiran, perasaan dan kehendak agar dapat menanggapi-Nya dengan  leluasa sebagai Tuhan dan menyembah serta melayani-Nya karena iman,   kesetiaan, dan rasa syukur.

( b) Allah demikian menginginkan hubungan yang intim ini dengan umat manusia sehingga, ketika Iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa untuk   memberontak dan tidak menaati perintah-Nya, Allah berjanji akan mengutus  seorang Juruselamat untuk menebus manusia dari dampak-dampak dosa    Kej 3:15]
Dengan cara ini Allah bisa memiliki umat milik-Nya sendiri yang akan  menikmati, memuliakan dan hidup di dalam kebenaran dan kekudusan dengan   Dia (Yes 60:21; 61:1-3; Ef 1:11-12; 1Pet 2:9).

( c) Puncak dari maksud Allah dalam ciptaan tercatat di dalam kitab Wahyudi mana Yohanes melukiskan akhir sejarah dengan kata-kata ini, “Lihatlah,    kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama    dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah    mereka” (Wahy 21:3).

PENCIPTAAN DAN EVOLUSI.

Evolusi merupakan pandangan utama mengenai asal mula kehidupan dan alam semesta yang diajarkan di kalangan ilmuwan dan pendidik di dunia dewasa ini. Orang Kristen yang percaya Alkitab harus memperhatikan empat pertimbangan ini mengenai evolusi.

1) Evolusi merupakan rekayasa naturalistis untuk menerangkan asal mula dan     perkembangan alam semesta. Pandangan ini bertolak dari anggapan bahwa tidakada Pencipta ilahi dan berkepribadian yang menciptakan dan membentuk dunia;sebagai gantinya, segala sesuatu dijadikan melalui serangkaian peristiwa    kebetulan selama berbiliun-biliun tahun. Penganut pandangan evolusi menuntut  bahwa hipotesis mereka didukung oleh data ilmiah.

2) Ajaran evolusi tidak sungguh-sungguh ilmiah. Menurut metode ilmiah, semua kesimpulan harus dilandaskan pada bukti yang tidak dapat disangkal, hasil berbagai percobaan yang dapat diulangi di laboratorium. Tetapi, tidak ada dan tidak akan pernah ada cara untuk membuat percobaan guna menguji dan mendukung aneka teori tentang asal mula zat dari suatu permulaan yang bersifat ” ledakan” atau tentang perkembangan bertahap makhluk hidup dari bentuk paling sederhana sampai kepada yang paling rumit. Oleh karena itu, evolusi merupakan hipotesis tanpa “bukti” ilmiah; karena itu, untuk menerimanya seorang harus percaya pada teori manusia. Sebaliknya, iman umat Allah adalah pada Tuhan dan penyataan terilham dari-Nya, yang menyatakan bahwa Dialah yang membuat segala sesuatu “terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr 11:3).

3) Tidak dapat disangkal bahwa perubahan dan perkembangan berbagai jenis makhluk hidup memang terjadi. Misalnya, ada beberapa jenis yang punah; pada pihak lain, kita kadang-kadang melihat munculnya keturunan baru dari jenis tertentu. Tetapi tidak ada bukti, bahkan dalam catatan geologis, yang  mendukung teori bahwa satu jenis makhluk hidup berkembang dari jenis lain.  Sebaliknya, bukti yang ada mendukung pernyataan Alkitab bahwa Allah  menciptakan setiap makhluk hidup sesuai dengan “jenis masing-masing” (Kej 1:21,24-25).

4) Orang Kristen yang percaya Alkitab juga harus menolak teori yang bernama evolusi teistik. Teori ini menerima kebanyakan unsur dari kesimpulan teori  evolusi naturalistis, hanya menambahkan bahwa Allah yang memulai proses  evolusi. Teori semacam itu menyangkal penyataan Alkitabiah yang menganggap bahwa Allah berperanan aktif di dalam semua aspek penciptaan. Misalnya,  setiap kata kerja dalam Kejadian satu bersubyek Allah, kecuali Kej 1:12  ( yang memenuhi perintah Allah dalam ayat Kej 1:11) dan frasa yang   muncul berkali-kali “jadilah petang dan jadilah pagi.” Allah bukan pengawas  pasif dari suatu proses evolusi; Dia merupakan Pencipta yang aktif dari  segala sesuatu (bd. Kol 1:16).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Juni 2011 in RENUNGAN

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: